Wednesday, 8 Ramadhan 1439 / 23 May 2018

Wednesday, 8 Ramadhan 1439 / 23 May 2018

Ustaz Somad: Kita Disatukan Cinta yang Berdasarkan Agama

Selasa 10 April 2018 17:51 WIB

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agus Yulianto

Ustaz Abdul Somad

Ustaz Abdul Somad

Foto: Republika/Prayogi
Para bapak bangsa ini, the Founding Fathers, merupakan ulama.

REPUBLIKA.CO.ID, Republika kembali menggelar acara Tokoh Perubahan. Kali ini, tema yang akan diangkat adalah "Memperkuat Simpul Pemersatu Bangsa". Ustaz Abdul Somad Lc, MA menjadi salah seorang penerima penghargaan tersebut. Reporter Republika, Hasanul Rizqa, berkesempatan mewawancarai pria yang lahir di Silo Lama, Asahan, Sumatra Utara, tersebut di sela-sela kesibukannya.

Mubaligh yang kini berusia 40 tahun itu memang memiliki jadwal yang padat. Lulusan Universitas al-Azhar, Mesir (S-1), dan Dar al-Hadits al-Hassania Institute, Maroko (S-2), itu dikenal luas, terutama melalui ceramah-ceramahnya yang disiarkan via media sosial. Dosen pada Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim, Riau, tersebut memiliki retorika yang memukau publik. Dia selalu menyampaikan materi-materi dakwah dengan bernas, tetapi tidak jarang disisipi humor jenaka.

Berikut ini petikan perbincangan Republika dengan Ustaz Abdul Somad yang ditemui di Bandung, pada Jumat (30/3) lalu.

Anda dipandang sebagai seorang pendakwah yang berhasil menghadirkan perubahan signifikan di tengah masyarakat. Menurut Anda, apa makna esensial dari sebuah perubahan?

Saya memahami dakwah sebagai attaghyir min halin ila ma huwa ahsan, yakni perubahan kepada yang lebih baik. Hal itu yang selalu saya sampaikan ke mana-mana. Jadi, misalnya, tiga (cara) perubahan ini. Pertama, perubahan melalui pendidikan. Pendidikan itu penting karena saya melihat bangsa ini akan berubah melalui pendidikan. Makanya, sebelum mendengarkan ceramah-ceramah, orang tua tidak peduli pada pendidikan anak-anaknya.

Setelah (mendengarkan) ceramah, mereka mulai berpikir untuk memasukkan anaknya ke sekolah-sekolah yang banyak muatan agama. Kemudian, contoh lainnya, guru-guru mulai memikirkan bagaimana supaya ada materi tambahan dalam pendidikan agama. Paling tidak, ada lima bidang yang harus (diajarkan), yakni Alquran-hadis, akidah-akhlak, bahasa Arab, sejarah Islam, dan kemudian fikih.

Kedua, setelah pendidikan itu ada perubahan melalui perbaikan-perbaikan di bidang ekonomi. Persoalan ini begitu penting karena masyarakat akan sangat rentan bila menjadi fakir. Kita tahu (hadis Nabi Muhammad SAW), "Kaada al-faqru an yakuuna kufraa." Hampir-hampir kefakiran menjadikan seseorang kafir.

Ketiga, perubahan politik. Fokusnya pada bagaimana seorang Muslim dapat melihat pentingnya seorang pemimpin Muslim yang peduli pada Islam. Hal ini tanpa harus mengesampingkan kaum minoritas karena ajaran Islam tidak bersifat radikal. Islam hadir sebagai rahmatan lil 'alamin.

Berdasarkan penelusuran di Google Trends, pencarian kata kunci Ustadz Abdul Somad mulai marak sejak Januari 2016. Malaysia dan Indonesia berturut-turut menjadi negara yang di dalamnya penelusuran tersebut berkembang signifikan. Memang, ceramah-ceramah Ustaz Abdul Somad dapat dengan mudah disaksikan via internet. Di Youtube, misalnya, video yang menampilkan mubaligh ini ditonton paling sedikit ribuan pengunjung. Generasi millennial juga dijangkaunya melalui Facebook dan Instagram.

Akun Facebook UstadzAbdulSomad diikuti lebih dari 1 juta pengunjung, sedangkan jumlah pengikut Instagram UstadzAbdulSomad mencapai 2,1 juta akun. Blog pribadi Ustaz Abdul Somad, somadmorocco.blogspot.co.id, diketahui aktif sejak April 2010.

Sehubungan dengan tema acara Tokoh Perubahan 2017, "Memperkuat Simpul Pemersatu Bangsa", menurut Anda, bagaimana situasi persatuan bangsa Indonesia saat ini?

Kita ini bangsa yang unik. Bangsa lain pernah bersatu kemudian pecah. Mereka bersatu, lantas berpecah belah. Kalau kita, tidak begitu. Dahulu kita sempat pecah menjadi beberapa negeri. Sebagai contoh, kerajaan-kerajaan Islam di bumi Melayu. Dahulu ada Kerajaan Aceh. Di ujung Pulau Sumatra, ada Samudra Pasai. Lalu, turun ke bawahnya, ada Kerajaan Melayu Langkat. Turun ke bawah lagi, ada Kerajaan Melayu Deli. Turun lagi ke bawah, ada Kerajaan Melayu Serdang. Turun lagi ke bawah, ada Kerajaan Melayu Asahan, Kerajaan Melayu Siak, dan Kerajaan Melayu Pelalawan. Turun lagi ke bawah, inilah Kerajaan Melayu Indragiri dan Kerajaan Melayu Jambi. Jadi, banyak. Itu semua baru di Pulau Sumatra saja, belum lagi kerajaan-kerajaan lainnya di nusantara. Semua itu kemudian bersatu menjadi sebuah negara besar. Itulah Indonesia.

Bangsa lain menjadi besar, tetapi kemudian (pecah) menjadi negeri-negeri. Contohnya, Rusia. Tadinya dia negara besar Uni Soviet, tetapi kemudian pecah. Jadi, saya katakan, kita sesungguhnya sangat bisa bersatu.

Sepanjang sejarah kita, ada beberapa momen kejayaan yang sekarang sudah lewat. Kejayaan minyak, itu sudah menjadi masa lalu. Sudah lewat. Kita tidak mungkin berjaya lagi dengan sokongan (komoditas ekspor) minyak. Kemudian, kita juga pernah (mengalami) kejayaan hutan. Sekarang hutan belantara kita sudah habis. Ada lagi kejayaan batu bara, yang ini juga sudah lewat.

Namun, ada satu kejayaan yang belum kita alami, tetapi semoga dalam waktu dekat ini terjadi. Apa itu? Kejayaan SDM atau sumber daya manusia. Kejayaan yang terjadi karena kekuatan manusia Indonesia. Jadi, tadi saya khutbah Jumat di Masjid Habiburrahman (PT Dirgantara Indonesia, Bandung). Beberapa di antaranya ditunjukkan (kepada saya). "Ini Ustaz, sarjana kapal terbang di Jerman. Kalau di luar negeri, dia bisa digaji ribuan dolar. Tapi, dia lebih memilih pulang ke Indonesia karena cinta bangsa ini." Itulah cinta.

"Cara dakwah Ustaz Abdul Somad meneduhkan dan sarat referensi keilmuan. Itu yang membedakan (Ustaz Abdul Somad) dengan ustaz lainnya," kata Wakil Presiden Jusuf Kalla. "Ceramah yang disampaikan oleh Ustaz Abdul Somad memberikan pencerahan dan semangat untuk bangsa Indonesia. Selain itu, juga memberikan aspek orientasi keagamaan yang baik," kata Wakapolri Syafruddin.

Jadi, menurut Anda, idealnya simpul-simpul perubahan diisi orang-orang yang cinta pada Tanah Air?

Iya. Kita akan disatukan oleh cinta. Cinta kepada bangsa. Cinta kepada negeri. Dan memang agama Islam mengajarkan itu. Umat Islam tidak diragukan lagi, paling cinta pada negeri ini. Sebab, teriakan mereka yang dahulu mengusir Belanda adalah "Allahu Akbar." Di Mukadimah Undang-Undang Dasar tertulis "Atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa". Oleh karena itu, dengan membawa-bawa nama Allah tidak berarti menjadi orang yang menginginkan disintegrasi atau radikal. Ada dua hal yang perlu kita pahami, yakni Islamofobia atau orang-orang yang ketakutan terhadap Islam dan ada (orang-orang) yang ketakutan terhadap persatuan kebangsaan. Sekarang, mengapa kita mesti takut? Apa yang kita takutkan? Toh, para bapak bangsa ini, the Founding Fathers, merupakan ulama. Jadi, kita akan disatukan oleh cinta yang berdasarkan agama.

Wikipedia menulis, "Kajian-kajiannya yang tajam dan menarik membuat banyak orang suka dengan tausiyahnya. Ulasan yang cerdas dan lugas, ditambah lagi dengan keahlian dalam merangkai kata yang menjadi sebuah retorika dakwah, membuat ceramah Ustaz Abdul Somad begitu mudah dicerna dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan masyarakat. Banyak dari ceramah Ustaz Abdul Somad yang mengulas berbagai macam persoalan agama. Bahkan, bukan itu saja, ceramah Ustaz Abdul Somad juga banyak yang membahas mengenai masalah-masalah terkini, nasionalisme, dan berbagai masalah yang sedang menjadi pembahasan hangat di kalangan masyarakat."

Menurut Anda, sejauh mana peran media massa, khususnya Republika, dalam menghadirkan perubahan?

Begini. Dakwah punya banyak unsur. Di antaranya speaking atau berbicara, memberikan pemaparan secara lisan. Namun, tulisan ternyata lebih luar biasa daripada lisan. Kita mengenal Imam Syafii, misalnya, bukan dari lisan, melainkan tulisannya. Maka dari itu, menulislah supaya orang-orang di masa depan mengetahui bahwa kau pernah hidup dan berbuat sesuatu.

Itulah pentingnya kawan-kawan dari pers. Khususnya, Republika yang mewakili pers Islam. Oleh sebab itu, kalian yang berkecimpung di dunia pers ini juga merupakan dai, pendakwah yang mengajak orang-orang ke jalan Allah. Kalian melakukannya melalui tulisan. Maka dari itu, pandangan umat mesti diluruskan melalui tulisan-tulisan.

Para pendakwah bukan hanya dari kalangan ustaz yang berceramah atau khatib di atas mimbar, melainkan juga penulis-penulis Islami yang berperang melawan ghazwul fikri, baik di media cetak maupun di media sosial, dunia maya, internet. Kalian adalah pejuang-pejuang yang menunjukkan, jalan mana yang menuju kebenaran dan jalan mana yang batil.

Kita lihat dunia sekarang. Yahudi bisa mengubah opini publik dengan Reuters, salah satu kantor berita dunia. Tidak ada yang namanya opini publik. Yang ada, opini yang selalu dipublikasikan. Kata pepatah, "Alah bisa karena biasa". Tiap hari dia (opini) dipublikasikan maka orang-orang (yang mendengarnya) menjadi terbiasa dengan itu, menjadi kebiasaan. Dan yang membiasakan opini-opini di tengah masyarakat adalah kawan-kawan insan pers. Maka, saya melihat Republika sebagai sebuah sarana dakwah. Saya melihat Republika sebagai bagian dari dakwah. Karena itu, teruslah Republika berjuang.

Pesan-pesan saya untuk kawan-kawan Republika. Di hadapan Allah, seorang penceramah belum tentu jauh lebih mulia daripada penulis. Yang akan dinilai Allah adalah keikhlasan kita. Niatkan setiap perbuatan kita ini karena Allah. Sebab, terlalu murah bila (upaya-upaya) kita dibayar hanya dengan gaji yang diberikan perusahaan. Melangkahlah dari niat mengejar ridha lillahi ta'ala. Maka dari itu, usaha kita untuk memperbaiki umat Islam lewat berita, insya Allah akan berbuah manis, baik di dunia maupun kelak di akhirat.

Baginya, dakwah adalah ajang untuk menyambung simpul-simpul pemersatu bangsa Indonesia, termasuk umat Islam. "Saya berdakwah tidak ada kepentingan. Murni amar makruf nahi mungkar. Saya bukan orang partai. Tidak ingin menjadi caleg (calon legislatif) dan lain-lain," kata Ustaz Abdul Somad.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES