Sabtu , 14 Februari 2015, 08:18 WIB
Kontroversi Valentine

Aktivitas Seks Massal, Sejarah di Balik Hari Valentine

Rep: CR05/ Red: Winda Destiana Putri
VOA
Valentine (ILustrasi)
Valentine (ILustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ustaz Felix Siauw sedikitnya memaparkan sejarah terkait hari valentine. Ia mengatakan, valentine sebetulnya berasal dari sejarah Romawi di mana kaum tersebut merayakan sebuah festival guna memeringati hari dewi cinta.
 
"Dan perayaan tersebut ditandai dengan aktivitas seks massal. Kemudian kristiani datang lalu mengadopsinya sebagai hari perayaan gereja atau kasih sayang," ujar Ustaz Felix Siauw di Jakarta, Jumat (13/1).

Lebih lanjut Ustaz yang sebelumnya menganut agama Kristen itu menyampaikan, faktanya saat ini aktivitas seks massal kaum pagan masih dilanjutkan. Yang tak lain terjadi pada saat hari valentine tiba.

Sebagai contoh di beberapa negara, hari valentine ditandai dengan beragam hal yang menyangkut dengan aktivitas seks.

"Di Amerika, Inggris misalnya ada namanya pekan impotens nasional atau pekan kondom. Artinya seks massal terjadi sepekan sebelum dan sepekan sesudah valentine," lanjut Ustaz.

Saat valentine, penjualan kondom di negara-negara tersebut juga meningkat. Selain itu, pemesanan kamar hotel juga lebih marak dan meningkat secara signifikan.

Ustaz menambahkan, terlepas dari itu semua, sudah jelas bahwa hari valentine tidak ada dalam ajaran Islam. Adapun hal-hal menyangkut dengan hari valentine seperti perzinahan juga jelas dilarang dalam Islam.

Termasuk melakukan perayaan atau ikut berpartisipasi dalam hari valentine juga haram hukumnya bagi Muslim.