Senin , 11 April 2016, 05:50 WIB

Diskusi 50 Tahun Supersemar Dihelat di Bandung

Red: Citra Listya Rini
YAYASAN SUPERSEMAR
Beasiswa Supersemar (Ilustrasi)
Beasiswa Supersemar (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG  --  Diskusi nasional dalam rangka memperingati 50 Tahun Supersemar yang bertajuk "Implikasi Supersemar bagi Peradaban Indonesia", akan dihelat oleh Keluarga Mahasiswa dan Alumni Penerima Beasiswa Supersemar (KMA-PBS) Jawa Barat dan Universitas Padjadjaran Bandung di Graha Sanusi Unpad Kota Bandung, Senin (11/4).

"Sejumlah narasumber akan hadir dalam diskusi ini seperti Pelaku Sejarah Dr Fahmi Idris, Ketua KMA PBS Dr Syahrial Yusuf, Pakar Komunikasi Politik Pak Yudi Latif, Pakar Ilmu Politik Dudi Heryadi," kata Ketua Panitia Diskusi "Implikasi Supersemar bagi Peradaban Indonesia" Mahpudi MT, di Bandung, Ahad (10/4)

Ia berharap melalui diskusi ini generasi muda saat ini bisa mempelajari hikmah Supersemar dan bagaimana insiatif-inisiatif yang telah dikontribusikan para pelakunya dalam mewujudkan cita-cita peradaban bangsa Indonesia.

"Tahun 2016 adalah memontum berharga karena genap 50 tahun kita melalui era yang ditandai dengan supersemar, buat kami supersemar adalah tonggak sejarah yang menentukan nasib bangsa saat itu pasca kemelut PKI yang gagal mengkudeta pada tahun 1965. Supersemar juga menjadi tonggak sejarah yang mengembalikan Indonesia kepada cita-cita peradaban karena Indonesia sudah punya road map peradabannya dalam UUD 45," ujar Mahpudi.

Dalam diskusi nasional tersebut, lanjut dia, tidak akan dibicarakan mengenai keasliaan, proses terjadi kontroversinya namun akan lebih banyak membahas tentang dampak atau implikasi supersemar bagi peradaban bangsa ini.

"Jadi para pembicara ini nantinya akan mengulik implikasi tersebut termasuk saya akan mencoba melihat dari aspek lain seperti apa Pak Seoharto menterjemahkan cita-cita peradaban yang akan saya kupas dari strategi kepemimpinan," katanya.

Ia mengatakan keberhasilan pelaksanaan Supersemar berimplikasi luas dan mendalam bagi perjalanan bangsa Indonesia berikutnya dan bangsa ini memiliki punya cukup waktu dan kesempatan untuk mewujudkan cita-cita peradaban yang telah diamanahkan oleh para Founding Father sebagaimana termuat dalam Pembukaan UUD 1945 yakni "Mewujudkan Masyarakat Adil Makmur berdasarkan Pancasila".

Supersemar yang diberikan oleh Presiden Soekarno kepada Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad) Letjen Soeharto merupakan realitas sejarah yang telah menjadi fakta hukum bangsa dan negara Indonesia.

Surat Perintah bertanggal 11 Maret 1966 ini berisi perintah agar Pak Harto melakukan tindakan yang dianggap perlu untuk memulihkan keamanan dan ketertiban nasional yang sedang berada dalam kemelut nasional menyusul gagalnya kudeta G30S oleh PKI pada 1965.

 

Sumber : Antara