Rabu , 11 Januari 2017, 16:33 WIB

Sebelum Menutup Situs-Situs Islam Kominfo Harus Tanya Ahlinya

Rep: Fuji E Permana/ Red: Andi Nur Aminah
EPA/Jagadeesh Nv
Situs diblokir.  (ilustrasi)
Situs diblokir. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) masih menutup beberapa situs yang dianggap melanggar aturan. Tindakan Kemkominfo pun menuai protes dari berbagai pihak dan kalangan karena penutupan yang dilakukannya terkesan tanpa alasan.

Pengamat dari Information and Communication Technology Institute (ICT), Heru Sutadi mengatakan, banyak situs-situs Islam diblokir. Menurutnya, apakah Kemkominfo mempunyai pengetahuan terhadap hal-hal yang dibahas di dalam Islam.

"Mereka tidak punya pengetahuan karena tugas dan fungsinya masalah informatika, bukan masalah keagamaan," kata Heru kepada Republika.co.id, Rabu (11/1).

Ia menerangkan, jadi Kemenkominfo mau tidak mau harus bertanya kepada ahlinya sebelum melakukan penutupan atau pemblokiran. Menurutnya, perlu ada pihak ketiga (tim panel) yang memiliki kemampuan melakukan penilaian terhadap situs-situs Islam.

Misalnya, sebelum menutup situs-situs Islam, perlu melibatkan Kementerian Agama, MUI dan yang lainnya untuk menjadi pihak ketiga. Maksud adanya pihak ketiga bukan berarti menilai Kemenkominfo tidak punya wewenang untuk melakukan penutupan dan pemblokiran. "Bukan berarti Kemenkominfo tidak punya wewenang, tapi pengetahuannya tidak sampai ke sana," ujarnya.

Ia menegaskan, perlunya pihak ketiga karena masalah pemblokiran harus akuntabel dan transparan. Sampaikan kepada publik alasan dilakukannya pemblokiran terlebih dahulu, agar semua tidak bertanya-tanya. Sehingga pada akhirnya tidak menuai protes.