Jumat , 17 March 2017, 18:31 WIB

Makam KH Hasyim Muzadi Ramai Didatangi Peziarah

Rep: Rusdy Nurdiansyah/ Red: Bayu Hermawan
Republika/Yasin Habibi
Ribuan warga membawa keranda jenazah Almarhum KH. Hasyim Muzadi saat proses pemakaman di komplek Pondok Pesantren Al-Hikam, Depok, Jabar, Kamis (16/3).
Ribuan warga membawa keranda jenazah Almarhum KH. Hasyim Muzadi saat proses pemakaman di komplek Pondok Pesantren Al-Hikam, Depok, Jabar, Kamis (16/3).

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Makam KH Hasyim Muzadi cukup ramai didatangi warga yang hendak memanjatkan doa. Puluhan warga bergantian berdatangan dari pagi, pukul 08.00 WIB hingga petang hari, pukul 17.00 WIB.

"Saya tidak tahu penjiarah datang dari mana saja, tapi sebagian besar warga Depok dan ada juga dari pengurus NU di hampir seluruh wilayah dari Jawa Timur serta ada juga serombongan santri dari Pondok Pesantren Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur," ujar  Abdul Shodiq (54), pengurus Masjid al-Hikam, Kukusan, Beji, Depok, saat dikonfirmasi, Jumat (17/3).

Menurut Shodiq, dirinya tidak mengetahui berapa banyak jumlah penjarah yang berdatangan dari pagi hingga petang hari.

"Kami tidak tahu betapa jumlahnya karena memang belum menyiapkan buku tamu. Tapi selama tujuh malam ini, kami menggelar tahlilan yang dimulai ba'da Isya," ujarnya.

Berdasarkan pantauan Republika.co.id, ratusan karangan bunga masih tampak berjejer di sepanjang jalan seputar kompleks Pondok Pesantren (Ponpes) Al Hikam yang beralamat di Jalan Haji Amat Nomor 23, RT 06/RW 03, Kukusan, Beji, Kukusan, Beji, Kota Depok.

Tampak juga para santri sibuk mempersiapkan puluhan dus air mineral dan melakukan sweeping sampah yang berserakan di lingkungan ponpes seluas 1,2 hektare yang berdiri pada 2002 ini. Kumandang ayat-ayat suci Alquran pun tak henti terdengar dari pengeras suara Masjid al-Hikam yang dilantunkan puluhan santri lainnya.

Para peziarah seusai memanjatkan doa lalu mengabadikan foto dengan ponsel di makam yang masih terpampang foto KH Hasyim Muzadi. Makam tersebut terletak di halaman samping timur Gedung STKQ di kompleks Ponpes al-Hikam. "Rencananya lahan kosong di samping timur Gedung STKQ, kira-kira seluas 200 m2 itu akan dijadikan kompleks makam keluarga," ujar Shodiq.

Munir (29) seorang santri dari Ponpes Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, mengaku sengaja datang bersama rombongan berjumlah 30 orang untuk berziarah.

"Kami memanjatkan doa agar pak kiayi dimudahkan jalannya menuju syurga. Semoga almarhum yang merupakan panutan kalangan Nahdliyin ini khusnul khatimah," ujarnya.

Lurah Kukusan, Beji, Depok, Hasan, mengungkapkan bahwa warga Kukusan sangat berduka meninggalnya KH Hasyim Muzadi yang juga merupakan warga Kelurahan Kukusan.

"Semasa hidupnya, Pak Kiai dikenal ramah dan dekat dengan warga Kukusan Selain itu, Pak Kiai sering mengundang warga untuk ikut pengajian bulanan di Masjid al-Hikam. Selain itu Pak kiai juga tak sungkan mengikuti berbagai kegiatan keagamaan yang diadakan oleh warga Kukusan," ujar Hasan.

Menurut Hasan, sebelum jatuh sakit dan di rawat di Malang, Jawa Timur, mantan ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut masih menyempatkan diri untuk hadir dalam kegiatan keagamaan yang diadakan warga Kelurahan Kukusan. "Kejadiannya satu bulan yang lalu, warga kami mengadakan kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Beliau hadir dan mengisi tausyiah meskipun dalam keadaan sakit dan harus dipapah saat berjalan," katanya.

Hasan berharap, seluruh masyarakat Indonesia, khususnya warga Kelurahan Kukusan, Kecamatan Beji, Kota Depok, dapat meneladani perilaku KH Hasyim Muzadi semasa hidupnya. Terutama dalam hal mendekatkan diri dengan masyarakat serta kegigihannya dalam menegakkan hukum agama.

"Kami kehilangan ulama yang sangat kami cintai. Semoga segala ilmu dan amal kebaikannya dapat menjadi panutan bagi kita semua," ujarnya.