Kamis , 23 March 2017, 12:32 WIB

Serangan Teroris London Tiru Nice dan Berlin

Rep: Qommarria Rostanti/ Red: Indira Rezkisari
Yui Mok/PA via AP
Tim penanganan darurat menangani seorang warga terkuka dekat Istana Westminster, London, Rabu (22/3). Serangan di luar gedung parlemen Inggris menewaskan lima orang.
Tim penanganan darurat menangani seorang warga terkuka dekat Istana Westminster, London, Rabu (22/3). Serangan di luar gedung parlemen Inggris menewaskan lima orang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Warga London, Inggris, dikejutkan dengan serangan teror di dekat Gedung Parlemen. Seorang polisi tewas tertusuk saat pelaku berupaya masuk ke Parlemen Inggris. Pelaku juga menabrakkan mobilnya hingga mengakibatkan puluhan orang luka luka.

Analis terorisme dari Universitas Indonesia (UI) Ridlwan Habib mengatakan tipe serangannya meniru serangan di Nice, Prancis, dan Berlin, Jerman. Yaitu menabrakkan kendaraan untuk mendapatkan korban sebanyak mungkin.

Menurut Ridlwan, belum tentu ISIS berada di balik teror London. "Pola serangannya memang sesuai instruksi ISIS, tapi sebaiknya menunggu investigasi sebelum menyebut itu didalangi ISIS, " kata dia, Kamis (23/3).

Ridlwan mengatakan keterlibatan Inggris dalam pasukan koalisi melawan ISIS di Mosul Irak bisa menjadi penyebab. Dia menyebut Inggris juga mengalami problem maraknya radikalisme di dalam penjara, para mantan napi yang bebas bisa terus aktif di dalam kota London. Beberapa jam setelah serangan beberapa portal berita Inggris menyebut Abu Izzudin sebagai dalang serangan. Namun, Abu Izzudin atau Trevor Brooks masih berada di dalam penjara di London.

"Bisa saja itu simpatisan atau mantan napi yang pernah berinteraksi di dalam penjara. Problem penjara radikal di London mirip dengan Indonesia, " kata Ridlwan.

Direktur Riset Indonesia Terrorism Monitoring (ITM) itu menyebut para napi kasus teror atau radikalis tidak berubah meskipun di dalam penjara. Sebaliknya, mereka justru makin radikal dan ilmu teknis terornya bertambah. Ridwan mengatakan tahanan dilema ini juga dialami London. Indonesia hingga kini juga belum punya sistem yang ideal agar mantan napi terorisme bisa berubah.