Jumat , 19 Mei 2017, 19:18 WIB

Jokowi Minta tak Habiskan Energi dengan Hoaks

Rep: Debbie Sutrisno/ Red: Indira Rezkisari
Antara
Presiden Joko Widodo
Presiden Joko Widodo

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuang energi untuk melakukan atau membuat pemberitaan-pemberitaan palsu atau hoaks. Terlebih pemberitaan yang dilakukan masyarakat melalui media sosial hanya akan merusak citra bangsa dan meruntuhkan persatuan.

"Saling fitnah, saling menghujat, saling menjelekkan, saling mencemooh, saling mendemo, saling menolak, habis energi kita untuk itu," kata Jokowi melalui siaran pers Istana, usai meninjau puncak latihan pasukan pemukul reaksi cepat (PPRC) d Natuna, Kepalauan Riau, Jumat (19/5).

Jokowi bercerita bahwa masing-masing negara, bukan hanya Indonesia, juga mengalami dampak negatif dari penggunaan media sosial. Keterbukaan informasi dari masyarakat melalui media sosial membuat banyak berita-berta palsu, fitnah, bohong, dan akibatnta berdampak pada orang banyak.

Bahkan ketika bertemu dengan sejumlah kepala negara dalam berbagai acara kenegaraan, berbagai kepala negara atau kepala pemerintahan pada umumnya mengeluhkan penyebaran berita hoaks yang juga terjadi di negara mereka masing-masing.

Maka itu, dibutuhkan upaya bersama untuk mengatasi dampak negatif dari penggunaan media sosial yang tidak bertanggung jawab itu. Salah satunya ialah dengan melawan penyebaran berita hoaks dimaksud untuk memberikan klarifikasi dan menyampaikan hal yang benar kepada masyarakat.

"Tugas kita bersama untuk membentengi negara ini dari, kadang-kadang, panasnya suasana, kabar-kabar bohong seperti itu, kabar-kabar fitnah seperti itu," ucapnya.

Jangan sampai masyarakat hanya menghabiskan waktu untuk hal yang tidak penting. Di saat negara lain sudah memikirkan mengenai kemajuan teknologi, rakyat Indonesia justru dipusingkan dengan banyaknya berita bohong.  Bila bangsa Indonesia terus berkutat pada hal-hal yang disebut tidak produktif itu, maka Indonesia akan semakin tertinggal.