Sabtu , 20 Mei 2017, 11:40 WIB

Spanyol Terbitkan Buku Kisah Guru Belanda di Jawa pada Era Penjajahan

Red: Bilal Ramadhan
KBRI Madrid
Para peserta yang menghadiri peluncuran buku 'Java, Amada y Odiada' di Madrid.
Para peserta yang menghadiri peluncuran buku 'Java, Amada y Odiada' di Madrid.

REPUBLIKA.CO.ID, MADRID -- Pada 16 Mei 2017 Alicia García Olbes, seorang penulis senior spanyol, telah mempublikasikan karya bukunya berjudul "Java, amada y odiada" di Gedung Arsip Sejarah Nasional (el Archivo Histórico Nacional) Madrid. Peluncuran buku tersebut telah diselenggarakan oleh Subdirector General de los Archivos Estatales Kementerian Pendidikan, Budaya dan Olahraga Spanyol yang bekerjasama dengan el Grupo Editorial Sial Pigmalión dan dihadiri oleh kalangan penulis, publisistik, sejarah, peminat buku, kalangan diplomatik dan media massa setempat.

Buku setebal 329 halaman dengan bersampulkan pemandangan gunung Bromo Jawa Timur menceritakan tentang kehidupan seorang warga negara Belanda pada 1915 yang ditugaskan di zaman Hindia Belanda sebagai guru sekolah selama tujuh tahun di beberapa kota seperti Blitar, Madiun, Rembang, Semarang (Pulau Jawa), Samarinda (Kaliimantan) dan Batavia (Jakarta).

Setelah setahun kembali untuk liburan dan menikah di Belanda, pada 1925 kembali lagi bekerja sebagai guru sekolah di kota-kota lain, Surabaya, Batavia, Mojokerto, Yogyakarta, dan Malang. Setelah memiliki empat anak hingga 1942, Jepang menjajah Indonesia dan ditangkap hingga menjadi tawanan perang di penjara Boeboetan (Surabaya).

Kemudian Jepang memasukan seluruh keluarganya ke kamp konsentrasi lain, yang memisahkan dia dengan anggota keluarganya dan dipindahkan beberapa kali ke berbagai kamp konsentrasi. Pada 1945 setelah berakhirnya Perang Dunia II, seluruh keluarganya bersatu kembali tetapi dalam kondisi sangat miskin, menderita penyakit serius, dan tetap bertahan hidup.

Pada kesempatan sambutan pada acara peluncuran buku tersebut, Duta Besar Yuli Mumpuni Widarso, yang memberikan kata pengantar pada halaman buku tersebut, telah hadir bersama-sama dengan Duta Besar Belanda, Matthijs van Bonzel, dan memberikan pesan pujian terhadap buku tersebut. Ia mengatakan buku ini telah memberikan ingatan kembali tentang bagaimana Belanda yang dulunya dikenal VOC tiba di kepulauan Indonesia, dan dimulainya gerakan kemerdekaan Indonesia dengan para pemimpin mereka Sukarno, Hatta, Sjahrir dan Tan Malaka, Muso, dan terjadinya perang kemerdekaan Indonesia, hingga keluarga tersebut harus dievakuasi ke Belanda pada tahun 1946.

Karena itu, atas nama seluruh kalangan masyarakat Indonesia di Spanyol Dubes RI menyampaikan penghargaannya terhadap karya penulis yang mengisahkan kehidupan manusia pada zaman perjuangan masa lalu, yang kiranya dapat dirasakan tetap hidup oleh masyarakat. "Hal ini merupakan suatu sumbangan bermakna bagi seluruh kalangan untuk dapat mengetahui keadaan dan cerita pelaku langsung saat bangsa Belanda berada di Indonesia," kata Yuli Mumpuni dalam pers rilisnya, Sabtu (20/5).