Selasa , 04 Juli 2017, 15:15 WIB

Muncul Isu Boikot, Ini Asal Kopi Starbucks

Rep: Sri Handayani/ Red: Teguh Firmansyah
Reuters/Keith Bedford
Starbucks
Starbucks

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Seruan boikot produk Starbucks bergulir dari beberapa pihak. Ini setelah CEO perusahaan tersebut menyatakan dukungan terhadap kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender.

Peneliti dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia Yusianto mengatakan boikot produk Starbucks tak akan berdampak kepada petani lokal, terutama di Sumatra Utara dan Aceh Tengah. “Untuk tahun ini tidak akan berdampak, karena jumlah panen sangat sedikit,” ujarnya kepada Republika.co.id, Selasa (4/7).

Yusi menjelaskan, sebagian besar kopi yang diambil Starbucks dari Indonesia berjenis Arabika. Starbucks membelinya dari para eksportir lokal. Starbucks membeli kopi spesialti yang memenuhi standar coffee practice.

Pasokan kopi diambil dari kawasan Aceh Tengah, Bener Meriah, dan sekitar danau Toba, Sumatra Utara. Kopi dari kedua daerah ini disebut sebagai Sumatra Coffee. Mereka juga membeli kopi dari daerah Jawa, Lampung dan Toraja. Jenis kopi lain yang baru-baru ini digunakan yaitu kopi Bali dan kopi Bajawa.

Yusi memastikan harga kopi spesialti, memang lebih mahal dari jenis yang lain. Tak heran, Starbucks mematok harga tinggi untuk produk-produknya. Namun, bagi penggemar kopi, mahal itu relatif jika dibandingkan dengan kenikmatan yang didapatkan.

Yusi mengatakan, keberadaan Starbuck menguntungkan para petani kopi. “Kopi petani yang diambil Starbucks, punya tambahan keuntungan, sebagai kompensasi atau CSR dari Starbucks. Hal ini tercantum dalam standar Coffe Practice, standar Starbuck. Aspek sosial sangat diperhatikan oleh Starbucks,” kata dia.

Ia menambahkan, harga kopi spesialti dari petani Sumatra Utara dan Aceh Tengah sudah sangat baik. Ia tidak menyebutkan berapa nilai yang diberikan secara pasti. “Lebih tinggi dari harga rata-rata kopi Arabika dunia,” kata dia.

Sebelumnya, CEO Starbuck Howard Schultz pernah menyatakan dukungan terhadap kelompok LGBT dan pernikahan sesama jenis. Pernyataan yang dibuat pada 2013 itu kembali bergulir. Merespons hal tersebut, organisasi masyarakat Muhammadiyah mendesak masyarakat boikot dan pembatalan izin operasi jejaring kopi internasional itu.

Baca Juga: Boikot Starbucks Tegaskan Identitas Bangsa.

Upaya ini juga mendapat sambutan di Malaysia. Kelompok Melayu Pribumi Perkasa Malaysia mendesak umat Islam memboikot Starbucks di Malaysia. "Perkasa mendesak umat Islam di Malaysia negara ini untuk memboikot Starbuck karena rantai kopi internasional yang berbasis di Amerika Serikat ini mendukung LGBT dan pernikahan sesama jenis," kata Kepala Biro Urusan Islam Perkasa Amini Amir Abdullah dalam sebuah pernyataan kepada the Malay Mail Online, Senin (3/7).