Rabu , 13 September 2017, 21:04 WIB

BNPB: Penanganan Kekeringan dengan Pengiriman Air

Red: Nur Aini
Antara/Yusran Uccang
Petani membajak sawahnya yang mengalami kekeringan di Persawahan Samata Gowa, Sulawesi Selatan, Selasa (12/9).
Petani membajak sawahnya yang mengalami kekeringan di Persawahan Samata Gowa, Sulawesi Selatan, Selasa (12/9).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Pusdatin dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho mengatakan penanganan kemarau untuk jangka pendek bisa dilakukan dengan pengiriman air ke daerah terdampak.

"Upaya jangka pendek saat ini adalah bagaimana memenuhi kebutuhan air saat musim kemarau hingga memasuki musim hujan nanti," kata Sutopo di Jakarta, Rabu (13/9).

Dia mengatakan upaya dropping air bersih itu dilakukan pemeritah pusat dan daerah. Setiap tahun BPBD dibantu relawan, SKPD, PMI, LSM dan lainnya memberikan droping air bersih melalui tangki air. BNPB, kata dia, juga memberikan bantuan dana siap pakai bagi BPBD. Selain itu didorong juga agar ada pembangunan bak penampungan air, embung, peningkatan pipanisasi dan sumur bor juga dilakukan.

Sementara itu, kata dia, Kementerian PUPERA, Pemda dan Kementerian ESDM sudah banyak membangun sumur bor, embung dan bak penampungan air. Bantuan BNPB untuk pembangunan sumur bor, embung dan bak penampungan air ternyata telah mampu mengurangi dampak kekeringan di berbagai daerah. "Pembangunan konservasi tanah dan air melalui pemanenan hujan dengan sumur resapan, biopori, rorak dan lainnya telah banyak dilakukan," kata dia.

Namun tidak kalah penting, kata dia, adalah upaya jangka panjang yang perlu juga dilakukan untuk mengatasi kemarau. Perlu peningkatan dan perbaikan kualitas lingkungan, penghijauan, pengelolaan daerah alira sungai terpadu, pembangunan bendung dan waduk, revitalisasi embung dan saluran irigasi, konservasi tanah dan air. Pemerintah, kata dia, saat ini terus menyelesaikan pembangunan bendungan dengan target pembangunan 65 bendungan selama 2015-2019. Di antara target itu, sejumlah bendungan sudah dirampungkan hingga akhir 2016.

Dia mengatakan tujuh bendungan tersebut di antaranya Bendungan Rajui dan Paya Seunara di Aceh, Bendungan Jatigede di Jawa Barat, Bendungan Bajulmati dan Bendungan Nipah di di Jawa Timur, Bendungan Titab di Bali dan Bendungan Teritib di Kalimantan Timur. Sementara itu, kata dia, pada 2017 ditargetkan tambahan tiga bendungan selesai yaitu Bendungan Raknamo, Bendungan Tanju dan Bendungan Marangkayu.

Hingga akhir 2019, kata Sutopo, pemerintah menargetkan pembangunan 29 bendungan selesai sehingga menambah tampungan air total sebanyak dua miliar meter kubik di berbagai daerah. "Konsistensi dan keberlanjutan upaya penanganan kekeringan melalui berbagai program dan kegiatan tersebut perlu didukung bersama. Perlu solusi permanen untuk mengatasi hal ini dengan gerakan bersama. Jika tidak kekeringan akan terus berulang setiap tahun," kata dia.

Sumber : Antara