Selasa , 19 September 2017, 21:24 WIB

Pengunjung Museum Nasution tak Sebanyak Museum Lain

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Endro Yuwanto
Republika/Ronggo Astungkoro
Royen (44) menunjukkan dan menceritakan kejadian G30S/PKI dengan diorama-diorama yang ada Museum A.H. Nasution, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (19/9).
Royen (44) menunjukkan dan menceritakan kejadian G30S/PKI dengan diorama-diorama yang ada Museum A.H. Nasution, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (19/9).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejak awal tahun hingga Agustus 2017, Museum Abdul Haris (AH) Nasution bisa mendatangkan 4.595 orang pengunjung. Tapi, jika dibandingkan dengan data pengunjung museum 2015 dan 2016, jumlah tersebut masih kalah jauh dari museum-museum lainnya.

Berdasarkan pantauan Republika.co.id, Selasa (19/9), museum yang berada di Jalan Teuku Umar Nomor 40, RT 1/1, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, itu sepi pengunjung. Sekitar pukul 11.00 WIB hingga 13.00 WIB, hanya satu keluarga yang terdiri dari orang tua dan satu anak, dan dua mahasiswa yang datang ke sana.

Satu keluarga tersebut, bersama dengan Republika.co.id dan seorang mahasiswa, berkeliling mulai dari pintu depan hingga ke kamar para ajudan purnawirawan Jenderal Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) itu. Di sana terdapat foto-foto yang menggambarkan tentang kehidupan dari AH Nasution, baik dengan keluarga maupun saat bekerja.

Selain foto, terdapat pula barang-barang peninggalan orang tua Ade Irma Suryani Nasution itu. Kursi favoritnya, meja kerjanya, kamar tidur dan kamar mandi beserta isinya, serta perabotan yang masih asli ada di dalam rumah itu.

Bukan itu saja, bekas tembakan peluru pasukan Tjakrabirawa yang hendak menculik Nasution pun tetap dibiarkan. Di pintu dan di dalam kamar tidur Nasution, di bagian atas pintu belakang rumahnya, di meja dalam kamarnya, ditambah retakan di pintu kamarnya bekas ditendang oleh pasukan tersebut, menambah suasana seperti saat ada di malam G-30S/PKI itu.

Hal itu diungkapkan oleh, Aji Suprayoga (38 tahun), ayah dari satu keluarga itu. Ia mengaku seperti sedang berada di kejadian malam percobaan penculikan Nasution oleh pasukan Tjakrabirawa. Itu karena adanya diorama-diorama yang dibuat mirip dengan pelaku sejarah itu, baik pasukan Tjakrabirawa, Nasution, dan Ade Irma Suryani.

"Patung-patung itu sangat (membuat) terbawa (suasana). Saya juga sedikit kesal melihat patung itu karena kan asli (mirip) tadi saya tanya sama bapak pemandunya tadi," kata warga Tangerang itu.

Lelaki berjenggot itu pun berharap, museum-museum seperti ini dijaga dan dilesarikan. Pelestarian itu diperlukan, menurut dia, agar masyarakat tak lupa akan sejarah. "Untuk mengenang sejarah. Jangan sampai kita ini lupa sejarah. Terutama ini adalah museum yang merupakan rumah dari korban pemberontakan G-30S/PKI," terang dia.

Pengunjung di sana bukan hanya Aji sekeluarga, Republika.co.id, dan dua mahasiswa itu saja, keluarga dari Nasution pun kerap mendatangi museum yang diresmikan pada 2008 itu. Hal itu diungkapkan oleh petugas museum yang berdinas di sana, Royen (44).

"Ya sering mereka ke sini, ada sebulan sekali. Dalam rangka rapat atau apa pun. Suka juga memperingati kejadian 30 September itu, suka ada kegiatan mendoakan para pahlawan," kata Royen usai menemani kami semua berkeliling rumah.

Jumlah pengunjung

Setelah berbincang dengan Royen, Republika.co.id melihat kembali buku tamu di bagian depan museum. Republika.co.id mencoba menghitung berapa jumlah pengunjung tahun 2017 dari Januari hingga bulan Agustus. Setelah dihitung dan dijumlahkan, angka pengunjung museum tersebut mencapai 4.595 orang.

Jumlah tersebut terdiri dari pengunjung pelajar SD, SMP, SMA, mahasiswa, umum, TNI/Polri, dan warga negara asing. Jumlah pengunjung paling sedikit ada pada bagian warga negara asing. Hampir tiap bulannya kosong. Sedangkan jumlah pengunjung terbanyak ada pada masyarakat umum.

Angka 4.595 tentu bukan angka yang sedikit jika merujuk pada satu museum. Tapi, jika dibandingkan dengan jumlah pengunjung museum lain, angka tersebut tergolong kecil. Jika dirata-rata, jumlah pengunjung per bulannya hanya sekitar 574 orang.

Republika.co.id mencoba membandingkan angka tersebut dengan data jumlah pengunjung Museum Tekstil tahun 2015 dari laman Jakarta Open Data. Data di sana menampilkan, sejak Januari hingga Agustus, pengunjung lokal Museum Tekstil mencapai 48.702 dengan rata-rata per bulannya sekitar 6.087 pengunjung.

Jika dibandingkan dengan data jumlah total pengunjung Museum Tekstil dalam satu tahun 2016, tetap berbeda jauh meski pengunjung Museum Tekstil di tahun itu menurun. Jumlah pengunjung Museum Tekstil tahun 2016 tak sebanyak jumlah pengunjung dalam delapan bulan di tahun 2015, yaitu hanya 44.357.

Bahkan, jika dibandingkan dengan jumlah pengunjung paling sedikit di data tersebut, yaitu Museum Prasasti, jumlah pengunjung Museum AH Nasution hanya setengahnya lebih sedikit. Pengunjung Museum Prasasti tahun 2016 mencapai angka 8.596 orang.