Selasa , 19 September 2017, 23:08 WIB

Sinkronisasi Trase LRT Jabodebek-Jakarta Belum Ditentukan

Red: Endro Yuwanto
Republika/Rakhmawaty La'lang
 Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodebek) di kawasan Cawang, Jakarta, Senin (7/8).
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodebek) di kawasan Cawang, Jakarta, Senin (7/8).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah masih belum menentukan skema sinkronisasi trase kereta ringan Jakarta (Light Rail Transit/LRT Jakarta) dan LRT Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodebek) yang bersilangan di Dukuh Atas.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menggelar rapat koordinasi di Jakarta, Selasa (19/9), untuk membahas sinkronisasi trase dua moda transportasi tersebut. Hadir dalam rapat tersebut Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya, Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Bambang Prihartono, serta PT Jakarta Propertindo sebagai kontraktor LRT Jakarta, dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk sebagai kontraktor LRT Jabodebek.

Menhub Budi Karya menjelaskan, rapat koordinasi itu belum menghasilkan keputusan final mengenai skema sinkronisasi trase kedua LRT. "Kami cuma bicarakan soal 'joint' di Dukuh Atas. Nantinya di Dukuh Atas itu mau berjejer, mau satu (digabung) atau mau ganda (bertingkat), belum diputuskan," katanya sambil menjelaskan dengan gerakan tangan.

Menurut Budi, masih ada masalah keuangan dan operasional yang harus diselesaikan terkait sinkronisasi dua trase tersebut. Pasalnya, harus ada hitungan luasan area, keselamatan, pengelolaan hingga biaya yang dikeluarkan.

Direktur Operasi III Adhi Karya Pundjung Setya Brata menjelaskan, sinkronisasi trase perlu dilakukan lantaran lahan yang sempit di Dukuh Atas. "Jadi perlu ada integrasi antara kami dengan LRT punya Jakpro supaya bisa saling terintegrasi antara dua moda ini. Lahannya kan sempit sehingga harus dicari cara agar pertemuannya bagus," ujarnya.

Kendati demikian, Setya juga menyebut belum ada keputusan terkait integrasi trase antara LRT Jabodebek dan LRT Jakarta di Dukuh Atas yang akan jadi stasiun sentral itu. "Di sana (Dukuh Atas) kan ada LRT Jabodebek, ada LRT punya Jakpro, ada kereta bandara, ada kereta rel listrik, ada juga MRT. Itu yang sedang didiskusikan untuk diatur," ucapnya.

Kepala BPTJ Bambang Prihartono menuturkan berdasarkan rencana induk, hanya ada satu jalur untuk LRT di Dukuh Atas karena keterbatasan luas lahan.
Namun, ia mengatakan Menko Luhut memberi kesempatan agar diupayakan bisa memuat dua jalur.

"Kalau untuk efisiensi, dengan lahan yang ada ya hanya satu 'track' (jalur). Tetapi Pak Menteri memberi kesempatan untuk cek lagi, dan memungkinkan. Juga jika beda operator," ungkap Bambang.

LRT Jakarta merupakan proyek Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang digarap PT Jakarta Propertindo (Jakpro). LRT Jakarta meliputi tujuh koridor, yakni Kebayoran Lama-Kelapa Gading (21,6 kilometer), Tanah Abang-Pulomas (17,6 kilometer), Joglo-Tanah Abang (11 kilometer), Puri Kembangan-Tanah Abang (9,3 kilometer), Pesing-Kelapa Gading (20,7 kilometer), Pesing-Bandara Soekarno-Hatta (18,5 kilometer), dan Cempaka Putih-Ancol (10 kilometer).

Sementara itu, pemerintah pusat juga membangun LRT Jabodebek di mana PT Adhi Karya (Persero) Tbk ditunjuk menjadi kontraktornya. Rute LRT Jabodebek meliputi Cawang-Cibubur, Cawang-Kuningan-Dukuh Atas, Cawang-Bekasi Timur, Dukuh Atas-Senayan, Cibubur- Bogor, dan Palmerah-Bogor. Kedua LRT bersinggungan di Dukuh Atas, di mana rute LRT Jakarta melewati Manggarai dan Dukuh Atas untuk menuju Tanah Abang.

Sumber : Antara

Berita Terkait