Selasa , 26 September 2017, 13:16 WIB

Menhan: Panglima TNI Bukan Keliru, Tetapi...

Rep: Santi Sopia/ Red: Andri Saubani
Antara/Sigid Kurniawan
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu (kiri) dan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo berbincang dalam suatu rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR.
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu (kiri) dan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo berbincang dalam suatu rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu mengaku belum mengetahui terkait informasi pengadaan 5.000 senjata seperti pernyataan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Ryamizard menegaskan, saat ini baru ada surat pengajuan per Mei 2017 untuk pendidikan Badan Intelijen Negara (BIN) yakni sebanyak 521 pucuk senjata dengam 72.750 butir amunisi.

Pengadaan oleh BIN itu sudah atas izin Kemenhan. Ihwal informasi impor 5.000 senjata api yang kini menjadi polemik, kata Ryamizard, Panglima TNI boleh jadi hanya kurang masukan dari asistennya.

"Bukan keliru, tapi mungkin dari stafnya kurang masukan. Seperti saya sangat tegantung pada asisten saya. Maka saya bilang staf saya, ada empat orang baca surat itu betul apa nggak? Jangan sampai salah, saya tergantung kamu," kata Menhan di Kantor Kemhan, Jakarta, Selasa (26/9).

Menhan juga menegaskan hubungan antara Kemenhan dengan TNI tentu sangat baik. Menhan meminta persoalan ini tidak dibesar-besarkan.

Lagipula, menurut mantan KASAD itu, polemik ini juga sudah mendapat penjelasan dari Menko Polhukam Wiranto. "Saya tidak memanaskan, saya memperjelas. Kalau pertahanan negara jelek yang digantung saya, bukan siapa-siapa. Nah ini saya melihat situasi tidak baik. Kalau kita ribut-ribut, ada yang senang, ditepokin, mau ditepokin?" tuturnya.