Rabu , 04 October 2017, 21:15 WIB

Kemenristekdikti Imbau Dosen Sadari Kemampuan Membimbing

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Winda Destiana Putri
Dosen/ilustrasi
Dosen/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) mengimbau dosen menyadari kemampuan membimbing mahasiswa dalam tugas akhir. Menurut Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemenristekdikti Intan Ahmad, sesuatunya harus dilakukan secara cermat.

Ia meminta dosen membimbing mahasiswanya dengan baik. Artinya, tidak abai dan memperhatikan setiap bimbingan tugas akhir. "Ini berlaku di negara mana saja. Mahasiswa juga harus kerja keras," ujar Intan di Jakarta Rabu (4/10).

Ia mengingatkan dosen mengukur kapasitasnya penjadi pembimbing dan menjalankan perannya mengajar. Sebab, menurut dia, tidak sedikit dosen memiliki jabatan struktural di perguruan tinggi yang menyita waktu. "Jadi kemampuan harus jujur pada diri sendiri, mampu membimbing berapa orang," tutur dia.

Ia mengingatkan seorang pembimbing tak bisa menyamaratakan setiap mahasiswa. Sebab, masing-masing mahasiswa memiliki kemampuan dan kesulitan sendiri. Intan menegaskan pendidikan itu tentang hasil pembelajaran. Sehingga, menurut dia, apabila ada mahasiswa belum mencapai hasil maksimal, dosen itu harus memberi perhatian lebih.

"Itu namanya pendidikan berbasis mahasiswa, (atau) student centered learning," jelasnya.

Ia berujar standar nasional pendidikan mengatur pembimbing dapat membimbing maksimal 10 mahasiswa. Namun, apabila dosen itu memiliki banyak kegiatan dan tanggung jawab, maka dia harus sadar dengan kemampuannya. Intan juga meminta mahasiswa pro aktif dalam kegiatan bimbingan tugas akhir. Tujuannya, membangun atmosfer akademik yang baik.