Senin , 09 Oktober 2017, 15:33 WIB

Kemristekdikti Soroti Integritas Ilmuwan dan Peneliti

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Winda Destiana Putri
Wikipedia
Ilmuwan. Ilustrasi
Ilmuwan. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggu (Kemristekdikti) mulai menyoroti dan mengevaluasi integritas ilmuan Diaspora dan akademisi dalam negeri. Hal itu menindaklanjuti terungkapnya sejumlah fakta Dwi Hartanto, peserta Visiting World Class Professor 2016.

Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti, Ali Ghufron Mukti menyebut kasus Dwi Hartanto menjadi bahan evaluasi Kemenristekdikti menyelenggarakan program Visiting World Class Professor.

"Kami melakukan evaluasi berkelanjutan, tidak hanya program ini, tetapi seluruh program dan kebijakan," kata dia dalam keterangan tertulis kepada wartawan," Senin (9/10).

Visiting World Class Professor merupakan salah satu program Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti Kemristekdikti. Program yang bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi, dilakukan menggandeng para Diaspora Indonesia.

Pada program Visiting World Class Professor 2016 lalu, Dwi Hartanto menjadi salah satu peserta terpilih berdasarkan riwayat hidup, capaian, dan prestasi akademis. Hal itu diperkuat pernyataan surat tertulis Dwi Hartanto, dirinya Assistant Professor yang tengah dipersiapkan dan diproyeksikan menjadi Full Professor permanen di Technische Universiteit Delft (TU Delft) di Belanda.

Ghufron membenarkan Dwi Hartanto bagian Visiting World Class Professor 2016. Dwi Hartanto mengaku sebagai Assistant Professor di TU Delft Belanda dan siap berkolaborasi dengan akademisi dalam negeri.

Bahkan, berbagai pemberitaan menyoroti prestasi Dwi Hartanto. Ghufron menyebut Dwi Hartanto melakukan kesalahan yang seharusnya tidak dilakukan ilmuwan atau akademisi. Ghufron menegaskan kebohongan akademis tidak bisa diterima. Apalagi, kebohongan akademis di ruang publik.

Kendati demikian, Ghufron meyakini Dwi Hartanto memiliki potensi mengembangkan kemampuannya. Ia mengimbau pada para ilmuwan Indonesia di luar negeri membantu Dwi Hartanto memperbaiki dirinya. "Janganlah kita menghakimi, tetapi kita arahkan dan berikan kesempatan,' ujar dia.

Ghufron meminta integritas peneliti menjadi pelajaran. Ia menilai persoalan integritas dalam diri akademisi perlu segera dicarikan solusinya. "Ini tantangan, permasalahan akademis kita ini di dalamnya termasuk integritas," jelasnya.

Peserta Visiting World Class Professor 2016 Dwi Hartanto menyampaikan surat permintaan maaf pada Kemenristekdikti tertanggal 7 Oktober 2017. Surat itu berisi klarifikasi dan permohonan maaf ihwal informasi kompetensi dan latal belakang yang tidak benar pada publik.

"Saya mengakui bahwa kesalahan ini terjadi karena kekhilafan saya dalam memberikan informasi yang tidak benar," kata Dwi Hartanto.

Salah satu pengakuannya, yakni, Dwi Hartanto bukanlah seorang doktor ataupun assistant professor bidang kedirgantaraan seperti roket dan pesawat tempur. Ia hanya mahasiswa doktoral Technische Universiteit Delft (TU Delft) di Belanda.

Pengakuannya sebagai assistant professor itu menjadikan Dwi Hartanto disorot berbagai kalangan. Bahkan, salah satu stasiun televisi nasional mengundangnya karena prestasi yang diakui Dwi Hartanto.