Kamis , 12 October 2017, 19:31 WIB

Kadin Bidik Potensi Investasi di Laos

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Nur Aini
Republika/Debbie sutrisno
Presiden Joko Widodo (kanan) dan Perdana Menteri Republik Demokratik Rakyat Laos Thongloun Sisoulith melakukan pernyataan bersama terkait kerja sama kedua negara di Istana Negara, Bogor, Kamis (12/10).
Presiden Joko Widodo (kanan) dan Perdana Menteri Republik Demokratik Rakyat Laos Thongloun Sisoulith melakukan pernyataan bersama terkait kerja sama kedua negara di Istana Negara, Bogor, Kamis (12/10).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bekerja sama dengan Lao National Chamber of Commerce and Industry (LNCCI) menggelar Indonesia-Lao Business Forum. Dalam acara tersebut, Kadin menandatangani nota kesepahaman dengan Wakil Ketua Umum Kadin Laos Daovone Phachanthavong.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan Benny Soetrisno mengungkapkan kesepakatan tersebut untuk meningkatkan kerja sama antara kedua belah pihak. "Ini untuk perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Laos," kata Benny di Hotel Grand Hyatt, Kamis (12/10).

Benny mengatakan kesepakatan tersebut tak hanya terkait soal investasi di Laos. Kerja sama tersebut dilakukan juga untuk mendukung dan memajukan UKM di kedua negara yaitu Indonesia dan Laos.

Meskipun begitu, Benny menuturkan saat ini potensi investasi tersebut masih harus dijajaki terlebih dahulu. "Kalau melihat market kecil ya masyarakatnya hanya sekitar enam juta orang saja. Kalau mau link ke negara sekitar bisa ke Kamboja, Vietnam, dan lain sebagainya itu bisa bikin production hub di sana," tutur Benny.

Benny membidik investasi dalam bidang industri di Laos yang paling cepat untuk segera dilakukan merupakan industri padat karya. Sebab, kata dia, keterampilan di sana belum terlalu bagus dan masih membutuhkan kerja sama juga dalam bidang pendidikan.

Dia menegaskan, saat ini Kadin akan mengusulkan investasi dalam bidang pendiidkan di Laos. "Sekolah kejuruan itu masih kurang. Misalnya untuk jadi tukang butuh sekolah keahlian. Saya yakin di sana masih belum ada," tutur Benny.

Sementara itu, Perdana Menteri Laos YM Thongloun Sisoulith menyambut baik penandatanganan kerja sama tersebut. "Sebelum saya datang ke sini, saya mengatakan tolong bawa saya bertemu dengan komunitas bisnis di forum ini," kata Sisoulith.

Dia mengharapkan pihak Indonesia juga bisa memiliki kesempatan untuk melihat bagaimana presentasi dari Laos. Hal itu menurutnya merupakan salah satu cara keterbukaan pemerintah Laos untuk menjalin kerja sama dengan Indonesia. Delegasi Laos terdiri dari pelaku usaha di sektor perdagangan dan investasi. Begitu juga dengan industri makanan, minuman, pertambangan, logistik, real estate, konstruksi, pembangkit listrik tenaga air, agribisnis, furnitur, layanan ICT, karet, migas, perbankan, pendidikan, otomotif, dan hotel.