Ahad , 17 September 2017, 15:56 WIB

PSSI Tolak Kaji Ulang Sanksi 'Save Rohingya' untuk Persib

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Andri Saubani
Febrian Fachri
Koreografi save Rohingya bobotoh Persib di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupatén Bandung, Sabtu (9/9).
Koreografi save Rohingya bobotoh Persib di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupatén Bandung, Sabtu (9/9).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Reaksi khalayak, atas sanksi koreografi 'Save Rohingya' dari suporter Persib Bandung tak membuat PSSI mundur dari keputusannya. Federasi sepak bola nasional itu menegaskan, hukuman tersebut, sudah benar dan tak ada jalan untuk dicabut.

Sekertaris Jenderal (Sekjen) PSSI, Ratu Tisha Destria mengatakan begitu. Tidak (ada pengkajian ulang), kata dia, saat dihubungi Republika, Ahad (17/9). Menurut Ratu, Komisi Disiplin (Komdis) PSSI sudah menjalankan fungsinya sebagai pengadil internal demi menjaga aturan dalam sepak bola yang universal.

Komdis PSSI, pada Rabu (13/9) menghukum Persib membayar denda Rp 50 juta. Hukuman tersebut lantaran aksi para suporter Maung Bandung yang melakukan aksi koreografi 'Save Rohingya'. Aksi para Bobotoh itu, terjadi saat laga Pangeran Biru, menjamu Semen Padang FC, pada pekan ke-23 Liga 1 2017, Sabtu (9/9) di Stadion Si Jalak Harupat.

Koreografi yang dinilai PSSI kontroversial tersebut, sebetulnya bentuk aksi peduli para suporter sepak bola atas tragedi yang terjadi di Myanmar. Yaitu, pembantaian yang dilakukan rezim di Naypyidaw atas masyarakat Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine.

Bentuk peduli dan aksi kemanusian masyarakat pecinta sepak bola di dalam stadion, sebetulnya sudah sering terjadi. Di Indonesia saja, saat laga uji coba timnas Garuda menjamu Malaysia di stadion Manahan, Solo, pada September 2016, suporter tuan rumah, membuat koreografer bendera Palestina.

Aksi tahun lalu itu, sebetulnya mengikuti  kepedulian serupa yang dilakukan suporter Celtic FC menjamu tim dari Israel, Hapoel Beersheba pada laga Liga Champions 2016/2017. Aksi tersebut, bentuk kepedulian masyrakat sepak bola, atas blokade tentara zionis di Masjidil al-Aqsha di Jerussalem, Palestina.

Kepedulian dan aksi kepedulian suporter juga terjadi di liga dan kejuaraan Eropa. Paling terakhir, aksi para suporter dan pemain FC Barcelona atas kejadian terorisme yang terjadi di ibu kota Katalan itu, beberapa waktu lalu. Menjelang Piala Eropa 2016 di Prancis, aksi serupa kepedulian serupa juga terjadi atas ledakan bom di Paris dan Brussel.

Tetapi, dari semua bentuk aksi kemanusian masyarakat sepak bola internasional tersebut, cuma satu yang dihukum oleh Federasi Sepak Bola Dunia dan Eropa (FIFA dan UEFA). Yakni, kepedulian suporter Celtic atas masyarakat Palestina. Sedangkan di Indonesia, kali ini ironis.

Sebagai salah satu negara suporter sepak bola terbesar di dunia, dan bangsa Muslim terbanyak, PSSI memilih menjatuhkan sanksi kepada Persib atas Save Rohingya. Yaitu, berupa hukuman denda sebesar Rp 50 juta. Komdis dalam putusannya, menyatakan Persib melanggar Pasal 57 Kode Disiplin Liga 1 2017.

Hukuman dari PSSI itu, sampai hari ini, pun mendapat penentangan. Meski, para suporter dan masyarakat, ikut mengumpulkan dana. Akan tetapi,  Ratu melanjutkan, hukuman tersebut demi marwah sepak bola bentukan bersama federasi internasional. Menurut dia, PSSI sebagai anggota FIFA, punya kewajiban menjaga aturan dan kemurnian sepak bola tersebut.

Menurut Ratu, pun sepak bola punya aturan main sendiri. Sepak bola tidak boleh dijadikan alat atau media penyampaian aksi untuk etnis, ras, suku, agama dan politik, serta marketing ambush (iklan yang terselubung) atau pesan lain terkait itu, kata Ratu, menerangkan.

Meski begitu, Ratu menegaskan, PSSI bukan tak punya empati terhadap tragedi yang menimpa Muslim Rohingya. Pun juga bukan melarang bentuk aksi peduli dan kemanusian masyarkat sepak bola Indonesia. Hanya, kata dia, agar aksi tersebut, tak dilakukan di stadion, saat laga resmi dalam kompetisi yang berjalan. "Saya tegaskan, PSSI tidak menentang isi dan pesan yang disampaikan suporter, sambung Ratu. Akan Tetapi, agar sepak bola, kata dia, agar tak menjadi agitasi massa untuk menyampaikan nilai-nilai di luar keolahragaan."