Jumat , 15 September 2017, 13:05 WIB

Warga Jepang: Korut Negara Teroris

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ratna Puspita
EPA-EFE / KIMIMASA MAYAMA
Aktivitas di pasar saham saat sesi perdagangan pagi ketika televisi menayangkan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, di Tokyo, Jepang, Jumat (15/9). Korea Utara meluncurkan rudal balistik atas Jepang yang dilaporkan jatuh di Samudera Pasifik, sekitar 2.000 km di timur Hokkaido, pulau yang terletak di bagian utara Jepang Hokkaido.
Aktivitas di pasar saham saat sesi perdagangan pagi ketika televisi menayangkan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, di Tokyo, Jepang, Jumat (15/9). Korea Utara meluncurkan rudal balistik atas Jepang yang dilaporkan jatuh di Samudera Pasifik, sekitar 2.000 km di timur Hokkaido, pulau yang terletak di bagian utara Jepang Hokkaido.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Warga Jepang kembali mengalami kepanikan ketika rudal Korea Utara (Korut) melintasi wilayah udara mereka pada Jumat (15/9). Ini adalah kedua kalinya rudal Korut melewati negara Matahari Terbit dalam kurun waktu kurang dari sebulan.

Jutaan penduduk Jepang, pada Jumat pagi, harus terburu-buru bangun setelah dikejutkan lengkingan sirene peringatan. Ini merupakan tanda bahwa ada ancaman yang sedang mendekat, dalam hal ini yaitu rudal balistik Korut.

Uji coba rudal Korut ini juga menyebabkan timbulnya kemarahan di antara masyarakat sipil. "Ada juga rasa amarah yang berkembang di kalangan orang biasa. Korut adalah negara teroris dan saya memperkirakan situasi ini akan meningkat lebih jauh lagi," ujar Ken Kato, seorang warga dan aktivis hak asasi manusia yang berbasis di Tokyo, seperti dikutip laman the Telegraph.

Kato mengatakan, orang-orang Jepang tidak mengalami ancaman semacam ini sejak akhir perang dunia kedua lebih dari 70 tahun lalu. Saat ini, menurut Kato, segenap warga Jepang merasa keluarganya berisiko dan terancam rudal Korut. "Inilah situasi yang kita hadapi saat ini dan kita harus menyesuaikan diri dengan kenyataan ini," ucapnya.

Seorang mahasiswa di Jepang, Mayako Shibata, mengaku lebih tenang menghadapi ancaman rudal Korut. "Saya tidak gugup dengan peluncuran (rudal) ini karena saya tidak percaya mereka menembaki target di Jepang. Jadi ini bukan serangan," ungkapnya.

Ia menilai rudal Korut ini lebih berdimensi politik dibandingkan ancaman keamanan. "Peluncuran rudal seperti ini lebih merupakan bagian dari permainan politik yang dimainkan Pyongyang, Seoul, Tokyo, dan Washington. Bagi saya ini adalah perilaku bodoh Korut karena mereka seharusnya tidak menembak rudal ke negara tetangga" tutur Shibata.

Yoshihiro Saito, seorang pekerja di kota nelayan kecil Erimo di Hokkaido, mengatakan ia sangat cemas terhadap ancaman rudal Korut. Terlebih, dalam sebulan terakhir, rudal Korut betul-betul melintasi atas kota Hokkaido.

"Saya tidak bisa mengatakan bahwa kita terbiasa dengan hal ini. Maksud saya, rudal itu terbang tepat di atas kota ini. Ini bukan sesuatu yang menyenangkan untuk didengar," kata Saito.

Ia berharap Pemerintah Jepang dapat melakukan sesuatu terkait ancaman Korut. "Ini sangat menakutkan," ucapnya.

Korut kembali meluncurkan rudal balistik pada Jumat (15/9) pagi waktu setempat. Rudal tersebut melintasi Jepang dan jatuh di laut lepas Hokkaido.Berdasarkan pemantauan militer Korsel rudal tersebut ditembakan Korutdari Sunan, sebuah distrik di dekat Bandara Internasional Pyongyang. Rudal mencapai ketinggian 770 kilometer dan menempuh jarak 3.700 kilometer.

Dengan ketinggian dan jarak tempuh yang berhasil dicapai rudal ini, pangkalan dan basis militer AS di Pasifik, yakni Guam, telah berada dalam jangkauan rudal Korut. Sebab jarak antara Pyongyang dan Guam hanya sekitar 3.400 kilometer. Guam merupakan target yang sempat hendak diserang Pyongyang namun ditunda eksekusinya oleh Kim Jong-un.