Selasa , 17 October 2017, 12:19 WIB

Soal Konteks 'Pribumi' di Pidatonya, Ini Kata Anies...

Rep: Mas Alimi Huda/ Red: Agus Yulianto
Republika/Prayogi
Gubenrur DKI Jakarta Anies Baswedan
Gubenrur DKI Jakarta Anies Baswedan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjelaskan penggunaan diksi 'pribumi' dalam pidato yang digelorakan di Balai Kota DKI, Senin (16/10). Penggunaan kata itu, menurut dia, konteksnya adalah era kolonialisme sebelum kemerdekaan.

"Istilah itu digunakan untuk konteks pada saat era penjajahan," kata dia di Balai Kota DKI, Selasa (17/10).

Anies mengatakan, Jakarta adalah kota yang paling merasakan penjajahan. Warga Ibu Kota menyaksikan langsung orang Belanda yang menjajah Indonesia. Hal ini tentu berbeda dengan mereka yang berada di daerah. Meski tahu adanya penjajahan di Indonesia, kata dia, tapi yang langsung menyaksikan adalah warga Jakarta.

"Yang lihat Belanda dari jarak dekat siapa, orang Jakarta. Coba kita di pelosok-pelosok Indonesia, tahu ada Belanda. Tapi lihat depan mata? Nggak. Yang lihat depan mata itu kita yang di Kota Jakarta," ujar dia.

Mantan menteri pendidikan dan kebudayaan itu menganggap pernyataannya dipelintir oleh beberapa media. Beberapa di antaranya, kata dia, sudah mengoreksi dari berita sebelumnya. Dia berharap, semua media mengoreksi pemberitaannya jika tidak sesuai dengan apa yang diucapkan.

"Pokoknya itu digunakan lebih menjelaskan era kolonial Belanda. Anda baca teksnya itu bicara tentang era kolonial Belanda," katanya.

Dalam pidatonya, Senin (16/10) malam, Anies mengatakan, "Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan, kini telah merdeka, kini saatnya kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri". Penggunaan diksi 'pribumi' ini yang dalam sekejap memantik perdebatan publik.