Ahad , 22 October 2017, 19:21 WIB

Kebakaran Hutan dan Lahan Tercatat Menurun Drastis

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Nur Aini
Antara
Ilustrasi Kebakaran Hutan
Ilustrasi Kebakaran Hutan

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA --  Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengklaim intensitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menurun dalam dua tahun terakhir. Begitu juga dengan luas area yang terbakar menurun hingga 71,5 persen.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Raffles B. Panjaitan mengatakan, berdasarkan pemantauan citra satelit yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sejak Januari-September 2017, luas karhutla tercatat sebesar 124.983 hektare. Angka ini jauh menurun hingga 71,5 persen dibandingkan 2016 yaitu seluas 438.360 hektare.

"Ini lebih signifikan lagi jika dibandingkan tahun 2015 yang mencapai angka 2,61 juta hektare," katanya melalui keterangan tertulis, Ahad (22/10).

Setelah kebakaran 2015, ia mengatakan, pemerintah mulai mengedepankan upaya pencegahan dan melakukan respons dini sebelum fase krisis. Sebelumnya, upaya yang diambil lebih fokus pada kejadian karhutla saat fase krisis.

Menurutnya, kunci penting keberhasilan penanganan karhutla tahun 2017 ini tidak lepas dari sinergi dan kerjasama antara para pihak, seperti Manggala Agni KLHK, BNPB, BPBD, TNI, Polri, pemerintah daerah, pihak swasta, tokoh masyarakat, dan para pihak terkait lainnya.

Sinergitas tersebut, kata Raffles, membuahkan hasil yang nyata di lapangan. "Meskipun kebakaran masih terjadi di beberapa daerah, namun tidak menimbulkan dampak asap yang meluas dan tidak menimbulkan kerugian besar seperti kejadian tahun 2015 lalu," ujarnya.

Berdasarkan pantauan Posko Dalkarhutla KLHK pada satelit NOAA, Sabtu (21/10) pukul 20.00 WIB ada 14 titik panas yang tersebar di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Jawa Timur masing-masing satu titik, Sulawesi Tengah (empat titik), serta Sulawesi Tenggara (dua titik). Sedangkan 26 titik panas juga terlihat oleh Satelit TERRA AQUA (NASA) confidence level lebih dari 80 persen, yang tersebar di beberapa wilayah provinsi rawan karhutla dan provinsi lainnya di Sulawesi dan Nusa Tenggara.

Itu artinya, berdasarkan satelit NOAA untuk periode 1 Januari hingga 21 Oktober 2017 terdapat 2.471 titik panas atau hotspot di seluruh Indonesia. Sedangkan pada periode yang sama pada 2016, tercatat sebanyak 3.701 hotspot, sehingga terdapat penurunan sebanyak 1.230 hotspot atau sebesar 33,23 persen.

Penurunan sejumlah 1.647 titik atau 44,57 persen juga ditunjukkan oleh satelit TERRA-AQUA (NASA) confidence level lebih dari 80 persen, yang mencatat 2.048 hotspot di tahun ini. Sebelumnya pada 2016 tercatat ada sebanyak 3.695 hotspot.