Selasa , 24 October 2017, 14:03 WIB

Penyair Taufiq Ismail Luncurkan Kumpulan Sajak di Korsel

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Elba Damhuri
Dok pribadi.
Taufiq Ismail di Korea Selatan.
Taufiq Ismail di Korea Selatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sastrawan senior Indonesia, Taufiq Ismail, meluncurkan buku kumpulan sajaknya, Meonji Wiui Meonji, di Seoul, Korea Selatan. Buku tersebut merupakan terjemahan bahasa Korea Selatan dari karya penyair yang sama yakni Debu di Atas Debu.

Dalam kesempatan itu, sosok kelahiran Bukittinggi, Sumatra Barat, itu juga membacakan dengan lantang sajak-sajak karyanya kepada para peserta. Penyair Angkatan 66 ini tampak begitu bersemangat di hadapan sekitar 100 mahasiswa Jurusan Indonesia, Hankuk University of Foreign Studies (HUFS), pada Senin (23/10) waktu Seoul.

Lee Yeon, seorang doktor dari Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) merampungkan terjemahan karya Taufiq Ismail itu ke dalam bahasa Korea Selatan. Dia memerlukan waktu satu tahun lamanya.

Yeon merupakan dosen mata kuliah Bahasa Indonesia pada kampus yang sama. Selain Debu di Atas Debu, lulusan program doktoral Universitas Indonesia itu juga telah menerjemahkan dua karya sastra Indonesia lainnya ke dalam bahasa Korea.

Karya-karya Taufiq Ismail telah diterjemahkan ke puluhan bahasa dunia, yakni antara lain Bahasa Arab, Inggris, Rusia, Cina, Bosnia, Perancis, Jerman dan Belanda. Sebagian karyanya juga sudah diterjemahkan dalam 80 bahasa daerah di Indonesia tepat ketika usia penyair ini 80 tahun.

Bagi Taufiq Ismail, peluncuran di Seoul ini memiliki makna tersendiri. Sebab, inilah buku yang diharapkan dapat menjadi jembatan pemahaman anak-anak bangsa di kedua negara.

"Saya senang tentunya. Semoga memberikan kontribusi bagi hubungan kedua bangsa yang lahir hampir bersamaan," kata Taufiq Ismail dalam keterangan tertulis yang diterima Republika, Selasa (24/10).

Dalam acara itu, pendiri majalah sastra Horison ini menceritakan bagaimana pedihnya perang saudara di semenanjung Korea pada era 1950-an. Peristiwa itu berakhir pada perpecahan Korea. Sebanyak dua juta orang terenggut nyawanya sebagai korban.

Salah satu sajaknya mengenang kepedihan Perang Korea bagi warga sipil tak berdosa. Pada 1970 silam, Taufiq Ismail bersama sejumlah sastrawan berkunjung ke Panmunjom, yang terletak di perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara. Suasana dan ingatan kolektif tentang peperangan di wilayah tersebut menginspirasi sang penyair untuk menulis puisi terpanjangnya berjudul Panmunjom.

Puisi Panmunjom merupakan puisi terpanjang saya. Waktu itu saya merasakan betapa peperangan telah menghadirkan keperihan dan kesengsaraan. Dan hebatnya, Korsel sekarang sudah bangkit dan menjadi bangsa yang penuh martabat. Saya akan bikin puisi lagi, tutur peraih South East Asia Write Award tahun 1994 itu.

Terpisah, Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Umar Hadi, tampak ikut hadir dalam acara peluncuran buku ini.
Hadi menyatakan, dirinya berkomitmen pada peningkatan kerja sama di bidang sosial budaya antara Indonesia dan Korea Selatan. Dalam waktu dekat, lanjut dia, diharapkan akan berdiri Indonesian Centre di beberapa universitas Korea Selatan.

Hadir pula unsur akademisi sastra dalam acara peluncuran buku tersebut. Di antaranya adalah pemimpin redaksi majalah sastra Horison Jamal D Rahman, kritikus sastra Maman S Mahayana, dan guru besar pada HUFS, Profesor Koh.

Saya berterima kasih kepada Bapak Dubes atas kesediaannya terlibat dalam urusan pendidikan dan budaya. Apalagi akan mengajar di universitas, kata Prof. Koh, yang juga pengajar senior Bahasa dan Sastra Indonesia diHUFS.