Rabu , 08 November 2017, 21:53 WIB

'Kasus Whatsapp Potensi untuk Aplikasi Dalam Negeri'

Rep: Debbie Sutrisno/ Red: Andri Saubani
Republika/Wihdan Hidayat
Menkominfo Rudiantara memberikan paparan saat konferensi pers di Gedung Menkominfo, Jakarta, Rabu (11/10).
Menkominfo Rudiantara memberikan paparan saat konferensi pers di Gedung Menkominfo, Jakarta, Rabu (11/10).

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Aplikasi pengirim pesan yang banyak digunakan masyarakat Indonesia, Whatsapp, menuai banyak kritik karena menghadirkan konten negatif pada salah satu sistem ketika akan mengirimkan pesan. Sejumlah masyarakat pun mulai mendengungkan agar pengguna Whatsapp bisa beralih ke aplikasi serupa buatan dalam negeri.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengatakan, memang masyarakat Indonesia bisa dikatakan sangat banyak menggunakan aplikasi-aplikasi internasional. Kemudahan dan konten yang ada membuat apalikasi tersebut menjadi pilihan utama.

Melihat persoalan penggunaan aplikasi kerap kali melanggar aturan dan norma di Indonesia, Rudiantara melihat bahwa sudah saatnya masyarakat menggunakan aplikasi pengirim pesar buatan anak negeri. Aplikasi tersebut bisa jadi merupakan aplikasi yang dimiliki pemuda Indonesia, atau pun aplikasi yang telah dikembangkan anak bangsa.

"Menurut saya justru menjadi momentum bagi Indonesia bagi kita untuk mempunyai kebijakan keberpihakan affirmative policy menggunakan aplikasi Indonesia," ujar Rudiantara, usai menghadiri resepsi Kahiyang-Bobby, Rabu (8/11).

Menurutnya, aplikasi pengirim pesan yang ada Indonesia saat ini memang belum secanggih aplikasi-aplikasi internasional. Sebab, perusahaan aplikasi dari luar negeri merupakan perusahaan yang besar dan selalu melakukan riset serta pengembangan baik melalui akuisis maupun pengembangan internal.

Meski demikian, Rudiantara yakin ketika aplikasi ini digunakan 20 juta orang Indonesia, maka perkembangannya akan seperti bola salju. "Akan sangat cepat dalam perkembangannya," kata Rudiantara.