Sabtu , 11 November 2017, 13:02 WIB

Australia Minta Indonesia Tetap Aktif dalam Krisis Rohingya

Red: Andri Saubani
Jorge Silva/Pool Photo via AP
Perdana Menter Australia Malcolm Turnbull di KTT APEC di Da Nang, Vietnam, Sabtu (11/11).
Perdana Menter Australia Malcolm Turnbull di KTT APEC di Da Nang, Vietnam, Sabtu (11/11).

REPUBLIKA.CO.ID, DA NANG -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull membicarakan empat hal dalam pertemuan bilateral di sela-sela pertemuan Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) di Da Nang, Vietnam. Salah satu yang dibahas adalah peran Indonesia dalam krisis Rohingya di Myanmar.

"Tadi dibicarakan beberapa hal di antaranya berkaitan dengan Rakhine State. PM Australia tetap meminta Indonesia berperan aktif karena memang seperti yang diketahui bersama yang berkomunikasi secara langsung dengan Rakhine State adalah Indonesia baik presiden sendiri maupun melalui bu Menlu," kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung di Da Nang, Vietnam, Sabtu (11/11).

Indonesia memang diketahui sudah mengirimkan bantuan sejak September 2017 kepada rakyat Rohingya yang berada di Rakhine State, Myanmar, yang harus mengungsi ke perbatasan Bangladesh karena terjadi konflik. Persoalan kedua yang dibahas adalah terkait dengan kondisi terakhir di kota Marawi, Filipina. Pasukan Filipina diketahui juga telah merebut kembali markas terakhir militan pro ISIS, Maute, di Kota Marawi.

"Kedua untuk Marawi, dalam Marawi ini Presiden Jokowi meminta kepada Australia agar memulihkan kota Marawi yang sekarang ini berhasil diatasi oleh Presiden Filipina," tambah Pramono.

Indonesia diketahui akan mengirim sejumlah intelektual muslim ke Marawai. "Sekarang Indonesia juga akan mengirim beberapa orang Islam moderat untuk memberikan edukasi kepada teman-teman di Marawi, karena Indonesia dianggap sebagai big brother sehingga dengan demikian Indonesia bisa berperan serta dalam hal tersebut," ungkap Pramono.

Hal ketiga yang dibicarakan adalah rencana ASEAN-Australia Summit 2018. "Yang juga dibicarakan adalah rencana pada bulan Maret 'ASEAN-Australia Summit' di Australia, dan Perdana Menteri Turnbull meminta secara khusus kepada Presiden Jokowi untuk berkenan bersedia memberikan 'speech' kepada para eksekutif di Australia dan Presiden menyampaikan akan mempersiapkan hal tersebut," jelas Pramono.

Terakhir, hal yang dibahas berkaitan dengan Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). "Berkaitan dengan CEPA diharapkan dapat diselesaikan pada akhir tahun ini karena sekarang sudah pertemuan ke-10 dan diharapkan pertemuan terakhir di Jakarta ini semuanya bisa diselesaikan," ungkap Pramono.


Sumber : Antara