Sabtu , 11 November 2017, 18:04 WIB

11 November 1785, Diponegoro 232 Tahun Silam

Red: Muhammad Subarkah
Gahetna.nl
Diponegoro bersurban dan menunggang kuda di depan pasukannya yang beristirahat di pinggiran Kali Bogowonto, Jawa Tengah.
Diponegoro bersurban dan menunggang kuda di depan pasukannya yang beristirahat di pinggiran Kali Bogowonto, Jawa Tengah.

Hari ini seorang sahabat menanyakan,"Mas anda ingat tanggal 11 September ada peristiwa apa?" Tentu saja pertanyaan sahabat yang jurnalis ini, Dian Widiyanarko, membuat kaget setengah mati.

Dia kemudian menyatakan: "Hari ini, 232 tahun lalu atau 11 November 1785, lahirlah seorang anak laki-laki yang dibeneri nama Mustahar. Anak yang kemudian juga dipanggil dengan nama Raden Mas Antawirya ini, merupakan putra Raja Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwono III yang lahir dari garwa ampeyan (selir)nya yaitu Raden Ayu Mangkarawati

Sebenarnya Antawirya adalah seorang putra mahkota yang akan diangkat jadi Sultan Hamengkubuwono IV. Namun dia menolak peluang itu. Bahkan memilih jalan terjal di luar benteng Keraton. Dan, empat puluh tahun kemudian, Antawirya dikenal dengan nama Diponegoro. Di saat itu pula dia menempuh jalan pedang yang membuat Pemerintah Kolonial Belanda tidak akan pernah lupa akan namanya.

Maka ketika tercenung mengingat kembali sosok Pangeran Diponegoro itu, teringatlah kembali kepada sebait tembang yang ditulisnya tentang soal Makrifat yang berarti tegas menolak penduaan:

Karena badan ini pasti musnah

tak usah merisaukannya,

kehadirian khayali,

terlalu tak berarti untuk
dipertahankan.

Berusahalah hanya demi

Hakikat sejati Yang Mahaada

Makna Islami...
           

Bait tembang puisi itu memang jarang diketahui publik. Namun, yang jelas rangkaian kalimat itu merupakan curahan hati ketika Pangeran Diponegoro (1785-1855) menuliskan kisah hidupnya dalam pengasingan di Makassar. Isinya lirih tapi tegas menyatakan arah sisi spiritualnya.

Sejarawan Inggris Peter Carey yang sudah lebih dari 40 tahun meneliti sosok bangsawan Keraton Yogyakarta ini menyatakan tak bisa dimungkiri dia merupakan seorang santri. Kepribadiannya kuat sebagai orang Muslim yang taat pelaku penganut tarekat Naqsabandiyah/Syatariah.

''Memang dia banyak kelemahan. Itu wajar sebagai manusia. Tapi, dia bukan orang munafik. Sisi spiritual Diponegoro adalah seorang santri,'' kata Carey. Dia pun menambahkan, sikap dia sebagai "wong Islam" tampak nyata bila menelusuri masa hidupnya. Semenjak kecil, dia mendalami ajaran Islam serta hidup akrab dengan dunia aktvitas Islam di Jawa (pesantren).

Dan, harus diakui, sisi Pangeran Diponegoro sebagai santri belum banyak diketahui. Namun, perlahan-lahan publik mulai tahu ketika Peter Carey menerbitkan tiga buku mengenai Diponegoro, Kuasa Ramalan, Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855. Buku ini terjual laris di pasaran. Isyarat ini kemudian juga terbukti dengan tingginya minat para pengunjung pameran lukisan dan artefak "Aku Diponegoro" yang beberapa waktu lalu (Februari 2017) digelar di Galeri Nasional Jakarta.