Rabu , 15 November 2017, 11:49 WIB

Insiden Kanisius adalah Bukti Jamaah 411/212 Pancasilais

Red: Joko Sadewo
ANTARA
Umat muslim mengikuti aksi 212 di depan Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta (ilustrasi)
Umat muslim mengikuti aksi 212 di depan Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Politikus PAN, Dradjad Hari Wibowo mengatakan, ada hikmah yang bisa diambil dari munculnya isu walk-out (WO) saat Anies menghadiri undangan di Kanisius. Setidaknya isu Kanisius ini membantah tudingan yang berkembang selama ini bahwa jamaah aksi 411 maupun 212 tidak Pancasilais.

Dradjad mengatakan, Insiden Kanisius sebenarnya bukan insiden besar, meski mungkin membuat malu Kanisius sendiri. Pihak Kolese Kanisius sudah meminta maaf, dan Gubernur juga tidak mempermasalahkan.

"Namun ada dua hikmah besar yang perlu kita perhatikan,” Kata Dradjad kepada Republika.co.id, Rabu (15/11).

Pertama, beberapa waktu lalu sebagian tokoh dan media massa tertentu gencar mengampanyekan "Saya Pancasila". Kampanye itu secara tidak langsung menuding umat Islam yang aktif menyuarakan aspirasinya dalam gerakan 411 / 212 sebagai tidak/kurang Pancasilais. Di media sosial tudingan itu bahkan lebih vulgar.

Jamaah 411 / 212 berkontribusi sangat signifikan dalam mengantarkan Anies-Sandi menjadi pemimpin Jakarta. Sekarang pada awal masa tugasnya, Gubernur Anies dan Wakil Gubernur Sandi sangat rajin menghadiri undangan dari warga/lembaga di Jakarta yang berlatar belakang Katolik, Protestan, Hindu dan Budha, termasuk acara di Kanisius.

"Apakah jamaah 411/212 mempersoalkan kehadiran tersebut? Sama sekali tidak! Kenapa? Karena jamaah 411 / 212 sangat Pancasilais. Sangat demokratis dan toleran,” kata Dradjad.

Mereka mengantarkan Anies-Sandi untuk menjadi Gubernur dan Wagub bagi seluruh rakyat Indonesia di Jakarta, apa pun latar belakang agama, suku, ras, dan golongannya.

Jamaah 411/212 juga sangat mengayomi. Tanaman dan jalanan saja diayomi tetap indah dan bersih saat aksi jutaan orang di Jakarta. Apalagi, saudara-saudaranya sesama bangsa Indonesia. Bandingkan dengan kerusakan dan kekumuhan yang terjadi paska demo 4 Desember 2016. Padahal, yang hadir hanya beberapa ribu orang.

Dradjad mengatakan, insiden walk out telah merusak nama Kanisius sendiri. "Sekarang timbul kesangsian, apakah Kanisius berhasil mengajarkan nilai-nilai Pancasila?” kata Dradjad, Rabu (15/11).

Tindakan Ananda Sukarlan, menurut Dradjad, menunjukkan sikap yang memalukan. Tidak Pancasilais, tidak bisa menerima kekalahan dalam demokrasi, tidak menghargai orang lain.

"Di sisi lain, salah satu pelaku, yaitu Ananda Sukarlan, adalah alumnus yang memperoleh penghargaan dari Kanisius,” ungkap dia.

Dradjad menyarankan, Kanisius sebaiknya membatalkan penghargaannya kepada Ananda Sukarlan. Ini agar tidak muncul kesan bahwa Kanisius menoleransi insiden walk out tersebut.

Dradjad memberi contoh dengan tindakan Kota Oxford di Inggris. Oxford membatalkan penghargaan kepada Aung San Suu Kyi  (ASSK) karena tidak ingin diasosiasikan dengan sikap diam ASSK dalam pembersihan etnis Rohingya.

"Ini hanya saran. Tentu terserah Kanisius dan alumninya untuk memutuskan,” ungkapnya.