Jumat , 08 December 2017, 08:19 WIB

KPAI: Kondisi 'Sekolah Bekas Kandang Kerbau' Memprihatinkan

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Bayu Hermawan
ROL/Havid Al Vizki
Komisioner Bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti
Komisioner Bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti

REPUBLIKA.CO.ID, SERANG -- Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengunjungi Sekolah Dasar Negeri Sadah, Serang, Banten pada Kamis (7/12) kemarin. Kunjungan tersebut dilakukan guna melihat kondisi dan fakta sebenarnya di SDN Sadah.

"Apakah sesuai dengan yang di tulis Ananda D (Devi) dalam suratnya atau malah kondisinya lebih memprihatinkan jika didasarkan pada delapan standar nasional pendidikan," kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti berdasarkan siaran pers yang diterima Republika.co.id, Jumat (8/12).

Retno mengatakan, hasil dari kunjungan tersebut, KPAI menilai kondisinya sangat memprihatinkan. Sarana dan prasarana SDN Sadah masih jauh dari standar minimun, jika didasarkan pada delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP).

"Misalnya ukuran ruang kelasnya yang rata-rata hanya 4 x 4 meter berlantai plester, WC (toilet) hanya satu untuk seluruh siswa, guru dan karyawan, dan tidak memiliki ruang perpustakaan. Ruang guru juga di ruangan yang ukurannya sekitar 2 x 4 meter dengan hanya beralaskan karpet berwarna hijau, tak ada meja dan kursi. Kapasitas listrik sekolah juga hanya 450 watt," jelas Retno.

Selain itu, Rento mengatakan, seluruh ruang kelas, kecuali ruang kelas enam merupakan bangunan semi permanen, dengan bahan bangunan seadanya. "Atap sekolah yang terbuat dari Asbes menjadikan ruangan kelas menjadi sangat panas ketika matahari sudah tinggi, terutama ruang kelas 4 (empat) yang atapnya hanya berjarak sekitar 2 jengkal dari kepala orang dewasa," kata Retno.

Kandang itik milik warga yang berada tidak jauh dari sekolah, juga menimbulkan bau yang kurang sedap. Sehingga proses pembelajaran tidak kondusif. Bahkan, kata Retno, karena keterbatasan ruang, awalnya ruang kerja kepala sekolah untuk sementara menumpang ruang tamu warga yang disekat. Warga sekitar memang bergotong royong membantu berjalannya sekolah, seperti meminjamkan tanah wakaf untuk ruang kelas 6, meminjanmkan gudang padi untuk ruang kelas 4 dan ruang guru.

"Sebagian tanah dan lapangan sekolah juga dipijamkan warga yang biasa disapa dengan Pak Haji. Komputer dan printer sekolah juga diletakan dirumah salah satu guru yang kebetulan jaraknya dekat dengan sekolah, sehingga semua administrasi yang memerlukan diketik dilakukan dari rumah tersebut."

Sebelumnya, seorang siswa kelas enam SD bernama Devi Marsya menulis surat 'Sekolahku Bekas Kandang Kerbau.' Surat tersebut akhirnya menjadi viral dan menjadi pemberitaan di berbagai media massa.