Sunday, 9 Jumadil Akhir 1439 / 25 February 2018

Sunday, 9 Jumadil Akhir 1439 / 25 February 2018

Aisyiyah: Hari Ibu, Peringatan Perjuangan Perempuan

Jumat 22 December 2017 11:53 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Winda Destiana Putri

Hari Ibu (ilustrasi)

Hari Ibu (ilustrasi)

Foto: neollene.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nasyiatul Aisyiyah mengajak perempuan kembali memahami makna Hari Ibu sebagai perjuangan kaum perempuan di Indonesia. Peringatan Hari Ibu pada 22 Desember memiliki sejarah dan semangat berbeda dari Mother's Day yang dirayakan di berbagai negara.

Jika menelusuri sejarah Hari Ibu di Indonesia, tidak lepas dari perjuangan kaum perempuan dalam kongres perempuan pertama di Indonesia pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta, kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah, Diyah Puspitarini dalam keterangan tertulis yang diterima Republika, Jumat (22/12).

Diyah berujar, dalam pertemuan itu para perempuan dari berbagai organisasi lintas agama dan suku berkumpul dengan semangat yang sama. Kongres itu diinisiasi oleh sejumlah organisasi, seperti, Aisyiyah, Wanita Tamansiswa, Wanita Katholik, Wanita Jong Java, dan lain-lain.

Diyah mengatakan kongres itu dilatarbelakangi adanya keresahan para perempuan yang merasakan stereotip dan diskrimanasi kaumnya di Indonesia. Saat itu, bangsa Indonesia masih berjuang merebut kemerdekaan.

Sehingga, sebagian besar pidato dalam kongres itu menyuarakan tentang Derajat Perempuan. Salah satu pidato yang terkenal adalah pidato Derajat Perempuan Siti Munjiyah dari Aisyiyah. Dalam isi pidatonya, Siti Munjiyah mengajak perempuan maju bersama dan membuktikan, derajat perempuan sama dengan laki laki.

Diyah berujar, sejarah Hari Ibu di Indonesia berbeda dengan latar belakang Mother's Day yang berawal dari Amerika Serikat. Menurut dia, saat itu, Anna Jarvis mengusung Mother's Day untuk memperingati kematian ibunya dan juga mengenang jasa dan peran para ibu di Amerika Serikat. Namun, akhirnya peringatan Hari Ibu di seluruh dunia berbeda-beda dengan konteks dan latar belakang yang berbeda pula.

Diyah berujar Nasyiatul Aisyiyah sebagai organisasi perempuan muda mengajak mengenang kembali makna perjuangan kongres wanita di Indonesia. "Derajat perempuan menjadi titik awal kontribusi perempuan dalam perang berbangsa dan bernegara," ujar dia.

Diyah beranggapan, melihat kondisi saat ini, derajat perempuan perlu diperjuangkan. Sebab, ia menilai masih banyak perempuan belum sadar memperjuangkan derajatnya dalam konteks diskriminasi dan kesetaraan.

"Jika perempuan tidak mau maju dan tidak sadar karena perempuan tidak paham dan masih banyak sistem yang belum berpihak," ujar dia.

Pun berbagai kasus kekerasan perempuan masih banyak menghiasi dan harus segera dituntaskan. Perdagangan perempuan dan buruh migran juga harus diperjuangkan dan diberikan perlindungan sistem hukum yang jelas.

"Nasyiatul Aisyiyah mengajak semua perempuan di Indonesia tersadar akan perjuangan perempuan untuk tersadar kontribusi untuk negara dan derajat perempuan itu sendiri," jelasnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES