Rabu , 03 January 2018, 15:06 WIB

Mau Jadi PNS? Siap-Siap Lowongan akan Dibuka Lagi

Rep: Debbie Sutrisno/ Red: Budi Raharjo
Republika/Rakhmawaty La'lang
Tes CPNS (ilustrasi)
Tes CPNS (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB) sedang menyiapkan diri untuk membuka kembali penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2018. Pembukaan CPNS ini kemungkinan akan dilakukan karena masih banyak Kementerian dan Lembaga pemerintah baik di pusat maupun di daerah yang membutuhkan PNS baru.

"Lagi dihitung anggarannya. Kemungkinan akan kita buka, lagi dihitung anggarannya," ujar Menpan-RB Asman Abdur di Istana Negara, Rabu (3/1).

Asman menjelaskan, hingga saat ini pihaknya masih melakukan penghitungan kebutuhan di masing-masing Kementerian dan Lembaga serta pemerintah daerah jika memang memerlukan. Jika sudah selesai perhitungannya secara pasti baru akan diumumkan kepada publik. "Nanti kalau sudah selesai (hitungannya) akan kita umumkan," ujar Asman.

Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) mengusulkan 250 ribu kuota Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di pusat dan daerah pada tahun 2018 mendatang. Jumlah tersebut, akan diprioritaskan untuk profesi tenaga kependidikan dan tenaga kesehatan.

"Prioritasnya masih guru dan tenaga kesehatan. Untuk komposisi, lebih banyak untuk daerah (pemda). Sebanyak 215.000 untuk pemda, dan sisanya ditempatkan di pusat," kata Deputi Bidang Sumber Daya Manusia (SDM) Aparatur KemenPAN-RB, Setiawan Wangsaat beberapa waktul lalu.

Setiawan menerangkan, tahun depan pemerintah akan tetap melakukan seleksi CPNS dengan sistem zero growth, mengingat Kementerian PAN-RB belum mencabut moratorium. Karenanya, ASN akan disesuaikan dengan jumlah pegawai yang memasuki masa pensiun di tahun 2018.

Menurut dia, untuk seleksi CPNS tahun 2018, akan lebih difokuskan pada jabatan teknis atau fungsional. Sebab, berdasarkan data kementerian, untuk jumlah ASN bidang administrasi terbanyak dengan presentasi 37,7 persen dari jumlah ASN di Indonesia, disusul tenaga pengajar (guru) 37,6 persen. Sementara ASN untuk jabatan teknis hanya 8,5 persen, disusul tenaga kesehatan sebanyak 6 persen.