Sabtu , 13 Januari 2018, 20:30 WIB

Menkes Minta Produksi Vaksin Difteri Ditingkatkan

Rep: djoko suceno/ Red: Esthi Maharani
djoko suceno / Republika
Menkes Nila F Moeleok bersama Ketua Komisi IX, Dede Yusuf, mendengarkan penjelasan Plt Dirut Bio Farma, Juliman, saat melakukan kunjungan kerja ke perusahaann tersebut di Bandung, Sabtu (13/1).
Menkes Nila F Moeleok bersama Ketua Komisi IX, Dede Yusuf, mendengarkan penjelasan Plt Dirut Bio Farma, Juliman, saat melakukan kunjungan kerja ke perusahaann tersebut di Bandung, Sabtu (13/1).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Menteri Kesehatan (Menkes), Nila F Noeleok, mengatakan, kebutuhan akan vaksin difteri meningkat menyusul terjadinya kejadian luar biasa (KLB) difteri di 170 kabupaten/kota di 30 provinsi di Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan vaksin yang akan diberikan kepada masyarakat, kata dia, pemerintah mengandalkan produksi dari PT Bio Farma. Ia berharap perusahaan BUMN tersebut bisa meningkatkan produksinya di tahun 2018.

"Kita dorong Bio Farma pada 2018 memproduksi lebih banyak. Biasanya 15 juta vaksin kini jadi 19 juta," kata dia kepada para wartawan saat kunjungan kerja ke PT Bio Farma Jalan Pasteur, Kota Bandung, Sabtu (13/1).

Pemberian vaksin difteri kepada masyarakat, kata Nila, akan terus ditingkatkan. Ia mengaku ada beberapa kendala dalam proses vaksinasi difteri seperti penolakan masyarakat terhadap vaksin.

"Hambatan tersebut tentunya akan dicari solusinya. Kita akan gandeng berbagai pihak untuk program vaksin difteri ini," ujar dia.

Sementara itu Plt Dirut Bio Farma, Juliman, mengatakan sudah berkomitmen memenuhi kebutuhan vaksin difteri untuk dalam negeri. Karena itu, imbuh dia, sejak 2017 Bio Farma menghentikan ekapor vaksin ini ke sejumlah negara. Kebutuhan dalam negeri akan vaksin ini, imbuh dia, akan diutamakan.

"Kita stop yang keluar (ekspor). Indonesia pun kalau impor belum tentu ada barang. Pabriknya enggak banyak," kata dia.

Kebutuhan 19 juta vaksin difteri untuk dalam neheri pada 2018, kata Juliman, bisa terpenuhi. Dalam situasi normal produksi vaksin ini bisa mencapai 15 juta vaksi dalam setahun. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan sebanyak 19 juta vaksi, perusahannya akan menggenjot produktifitas dengan menambah jumlah hari kerja.

"Kalau normal dengan lima hari kerja sebanyak 15 juta vaksin. Sekarang karena KLB tujuh hari kerja bisa mencapai 20 juta vaksin," kata dia.