Sunday, 6 Rabiul Awwal 1444 / 02 October 2022

Keluarga Korban Ospek ITB Tetap Tolak Otopsi

Selasa 17 Feb 2009 05:26 WIB

Red:

CIMAHI--Keluarga korban mahasiswa ITB yang tewas dalam orientasi Ikatan Mahasiswa Geodesi dan Geometri (IMG), Dwiyanto Nugroho tetap bersikeras menolak permintaan otopsi dari tim penyidik Polres Cimahi. Pasalnya, keluarga tidak mau kuburan anaknya dibongkar kembali hanya demi kepentingan otopsi."Intinya, keluarga tetap menolak rencana otopsi itu,''tegas Ayahanda Dwiyanto, Daryanto, Senin (16/2).

Daryanto yang tiba pada pukul 15.20 WIB itu, langsung memasuki ruang Kapores Cimahi, AKBP Purwolelono. Daryanto hendak memberikan jawaban atas surat resmi permintaan otopsi Dwiyanto yang disampaikan Polres Cimahi.Ditambahkan Daryanto, upaya permintaan otopsi terhadap anaknya akan berdampak terhadap pembongkaran makam anaknya tersebut. Daryanto mengaku tidak mau menanggung resiko tersebut.

Sebelumnya, Daryanto mengaku iklas menerima kematian anaknya. Meski demikian, Daryanto tetap meminta tanggung jawab ITB. Pasalnya, Daryanto curiga anaknya meninggal tidak wajar. Pasalnya, Daryanto menemukan adanya bekas legam di tubuh anaknya tersebut.Dwiyanto, mahasiswa ITB Jurusan Geodesi ITB angkatan 2007 ini tewas dalam kegiatan orientasi IMG ITB pada 7-8 Februari lalu yang dilaksanakan di Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. (KBB).

Sementara itu, Pembantu Dekan III Bidang Kemahasiswaan Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Djanuarsih Sariawati diperiksa tim penyidik Polres Cimahi selama lima jam lebih. Seusai pemeriksaan, Djanuarsih mengungkapkan bahwa tim penyidik meminta keterangan seputar struktur Atlas Medical Pioneer (AMP).

Menurut Djanuarsih, AMP merupakan kelompok medis yang juga memiliki kemampuan seperti pecinta alam. Ditambahkan dia, sejak didirikan, AMP telah membantu berbagai kegiatan organisasi-organisasi lain, khususnya yang berkaitan dengan kegiatan pecinta alam dan sejenisnya.

Dalam kegiatan tersebut, saat bekerja sama dengan organisasi-organisasi diluar AMP, AMP diminta untuk menangani medis peserta kegaitan.

Sementara mengenai tewasnya mahasiswa ITB, Dwiyanto, Djanuarsih mengatakan bahwa tim medis AMP yang saat itu bertugas tidak diperbolehkan masuk mendampingi peserta secara langsung.''Tim hanya boleh menunggu di pos kesehatan yang telah disediakan oleh panitia kegiatan,''jelas dia.

Ditambahkan Djanuarsih, tim medis AMP merupakan kumpulan orang-orang yang terlatih, dan memiliki keterampilan medis. Bahkan, kata Djanuarsih, tidak semua mahasiswa kedokteran pun bisa masuk AMP.''Semuanya harus melalui tahapan pelatihan terlebih dahulu,''tegas dia. rfa/kpo

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA