Jumat, 21 Sya'ban 1440 / 26 April 2019

Jumat, 21 Sya'ban 1440 / 26 April 2019

Mengenal Enam Kitab Hadis Rujukan (5)

Selasa 19 Mar 2019 18:28 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Rasulullah

Rasulullah

Foto: Wikipedia
Enam kitab ini sering menjadi rujukan utama dalam studi ilmu hadis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Telah dikemukakan sebelumnya tentang empat kitab yang dikenal luas mengenai studi ilmu hadis. Mereka adalah Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Daud, dan Sunan Tirmidzi. Kali ini, penjelasan berikutya adalah tentang Sunan Nasa'i.

 

Baca Juga

Sunan Nasa'i

Nasa'i terkenal sangat selektif dalam meriwayatkan hadis. Dalam mengomentari sifat itu, Ibn Shalah mengatakan, Nasa'i terhitung berani meriwayatkan hadis yang dipersengketakan.

Konteksnya, pada setiap generasi, kerap muncul kritikus-kritikus hadis yang terkadang keras dan moderat. Nas'i menyikapinya dengan pemahaman yang objektif. Naisaburi dalam komentarnya terhadap periwayatan al-Nasa'i mengatakan, "Syarat yang dipakai Nasa'i lebih ketat dibanding syarat yang digunakan Muslim al-Hajjaj."

Barangkali, lantaran faktor itulah Abu Abdillah al-Rasyid dalam muqadimah Sunan Nasa'i mengungkapkan, Sunan Nasa'i merupakan kitab terbaik. Sebab, di dalamnya menggabungkan dua bentuk metodologi Bukhari-Muslim dan menambah banyak keterangan yang menyangkut illat (cacat rawi).

Sunan Nasa'i merupakan karya terbesar Abu Abdurrahman Ahmad bin Syuaib bin Ali bin Sinan bin Bahr al-Khurasani al-Nasa'i. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa penulisan tentang Sunan Nasa'i dimaksudkan sebagai persembahan atau bentuk penghormatan kepada Gubernur Ramlah.

Ketika kitab tersebut hendak diserahkan, Gubernur Ramlah sempat bertanya pada Nasa'i, "Apakah isi kitab itu sahih?"

Nasa'i menjawab, "Ada yang sahih, ada yang hasan, dan ada pula yang mendekati keduanya."

Gubernur Ramlah lalu menyuruh Nasa'i untuk menyeleksi kembali hadis-hadis yang semula bernama Sunan al-Kubra tersebut.

Namun, karena dalam kenyataannya Sunan Nasa'i masih memuat hadis-hadis yang majhul (tidak diketahui), majruh (cacat), dhaif, dan memuat perawi yang terkadang masuk dalam kategori al-juhalat (bodoh), ghair tsiqat (tak bisa dipercaya), al-ghulat (salah), dan semacamnya.

Maka dari itu, banyak ulama berselisih pendapat tentang kedudukan Sunan Nasa'i dalam kategori kesahihannya. Bagaimanapun, hadis-hadis yang dituduhkan kepadanya itu tidak terlampau banyak dibandingkan dengan hadis-hadis yang sahih atau yang belum terdapat dalam literatur sebelumnya. Karena itu, secara umum mayoritas ulama menilai Sunan Nasa'i sebanding dengan Sunan Abu Daud.

(bersambung)

Sumber : Islam Digest Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA