Kamis, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Kamis, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Ancaman untuk Mereka yang Gemar Gibah

Selasa 26 Mar 2019 17:13 WIB

Red: Hasanul Rizqa

(Ilustrasi) Gibah termasuk perbuatan yang dilarang.

(Ilustrasi) Gibah termasuk perbuatan yang dilarang.

Gibah atau bergunjing termasuk perkara yang terlarang dilakukan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Gibah atau bergunjing berarti membicarakan keburukan atau aib orang lain. Menurut ajaran Islam, perbuatan itu termasuk terlarang, sehingga sudah semestinya kaum Muslimin menghindarinya.

Salah satu cara efektif menjauhi perbuatan gibah adalah dengan kesadaran diri. Sebagai manusia biasa, tidak ada yang luput kesalahan dan khilaf. Karena itu, belum tentu orang yang dipergunjingkan lebih rendah daripada diri pelaku sendiri. Tinggal menunggu waktu saja, kapan Allah Ta'ala akan menguak aib yang telah lama disembunyikan dari orang-orang banyak.

Baca Juga

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW mengingatkan umatnya, "Wahai sekalian manusia yang beriman dengan lisannya, sementara iman itu belum masuk ke dalam relung hatinya. Janganlah kalian bergibah (menggunjing) kaum Muslimin. Jangan pula kalian mencari-cari kesalahan mereka. Bagi orang yang suka mencari-cari kesalahan (aib) saudaranya sesama kaum Muslimin, maka Allah membuka aibnya, walaupun dia berada di dalam rumahnya (tersembunyi dari publik)."

Sementara itu, Alquran surah al-Ahzab ayat 58 juga mengingatkan hal senada. Artinya, "Dan orang-orang yang menyakiti kaum beriman, dari kalangan laki-laki dan perempuan, tanpa adanya kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya orang-orang itu telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." Bergunjing hanya menambah dosa, sedangkan subjek yang dipergunjingkan bisa berkurang dosanya dan bertambah pahala atasnya. Demikianlah keadilan Allah Ta'ala berlaku.

Adakalanya, seseorang bergunjing karena merasa kabar yang diterimanya merupakan kebenaran. Padahal, tanpa klarifikasi (tabayyun) bisa jadi persebaran kabar itu menjurus pada hoaks atau bahkan fitnah. Yang demikian itu merupakan kerugian besar bagi masyarakat, khususnya kaum Muslimin.

Karena itu, sejak semula Islam memerintahkan sekalian manusia untuk menjauhi prasangka, yang menjadi awal gibah. Bahkan, para pelaku gibah diibaratkan sebagai orang yang kalap, memakan bangkai saudaranya sendiri.

Baca juga: Mengapa Daging Ulama Diibaratkan Beracun?

Dalam surah al-Hujurat ayat 12, Allah SWT berfirman. Artinya, "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang, dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."

 

Sumber : Islam Digest Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA