Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Minuman Manis Dorong Kematian Dini

Selasa 19 Mar 2019 15:59 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Indira Rezkisari

Minuman manis.

Minuman manis.

Foto: PxHere
Konsumsi minuman manis picu penyakit jantung hingga strok.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi baru menegaskan untuk semakin menjauhi minuman manis dalam menu harian. Sering minum minuman manis dapat meningkatkan risiko kematian dini akibat penyakit kardiovaskular.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Circulation menemukan, orang yang mengonsumsi dua atau lebih sugar-sweetened beverages atau SSB per hari (setara dengan gelas standar, botol atau kaleng) memiliki risiko 31 persen lebih tinggi kematian dini akibat penyakit jantung. Setiap porsi tambahan SSB juga dikaitkan dengan sepuluh persen risiko penyakit yang lebih besar.

Semakin sering mengonsumsi minuman manis meningkatkan kematian akibat kanker sebesar 18 persen.

"Hasil kami memberikan dukungan lebih lanjut untuk membatasi asupan SSB dan untuk menggantinya dengan minuman lain, lebih disukai air, untuk meningkatkan kesehatan dan umur panjang secara keseluruhan," kata ilmuwan peneliti di Harvard T.H. Chan School of Public Health Departemen Nutrisi Vasanti Malik, dikutip dari Independent, Selasa (19/3).

Studi sebelumnya telah menemukan hubungan antara asupan SSB dan kenaikan berat badan, risiko lebih tinggi dari diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan strok. Meskipun beberapa orang telah melihat hubungan antara asupan SSB dan kematian setelah penelitian tersebut.

Untuk menguji pengaruh minuman manis terhadap peningkatan risiko kematian dalam penelitian ini, peneliti menggunakan data dari 37.716 pria Amerika dalam Studi Tindak Lanjut Profesional Kesehatan yang dimulai pada 1986, dan 80.647 wanita Amerika dalam Nurses Health Study, yang dimulai pada tahun 1976. Kedua studi tersebut berakhir pada 2014.

Peserta mengisi survei tentang diet mereka setiap empat tahun, dan menjawab pertanyaan tentang gaya hidup dan kesehatan secara keseluruhan setiap dua tahun. Dari hasil tersebut, peneliti menemukan, dibandingkan dengan meminum SSB kurang dari sekali per bulan, minum satu hingga empat minuman manis per bulan dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian satu persen.

Sementara itu, minum dua hingga enam per minggu ditemukan terkait dengan peningkatan 6 persen. Sedangkan satu hingga dua per hari mengalami peningkatan 14 persen, dan dua atau lebih per hari dengan peningkatan hingga 21 persen.

Layanan Kesehatan Nasional Inggris merekomendasikan orang dewasa untuk mengonsumsi tidak lebih dari 30 gram gula yang ditambahkan ke makanan atau minuman per hari. Jumlah ini berkurang menjadi 24 gram untuk anak-anak berusia tujuh hingga 10 tahun, dan menjadi 19 gram untuk mereka yang berusia empat hingga enam tahun.

Produk masuk kategori tinggi gula kalau mengandung lebih dari total 22,5 kg gula per 100 gram. Sedangkan kategori rendah ketika mengandung total gula 5 gram untuk ukuran yang sama.

Para peneliti menemukan, mengganti minuman yang diberi pemanis gula dengan minuman yang diberi pemanis buatan (ASBs) dikaitkan dengan risiko kematian dini yang cukup rendah. Namun, mereka juga menemukan hubungan antara tingkat asupan tinggi, setidaknya empat porsi  per hari, ASB sedikit meningkatkan risiko mortalitas keseluruhan dan terkait kardiovaskular di kalangan wanita. Akibatnya, mereka memperingatkan terhadap konsumsi ASB yang berlebihan.

"Temuan ini konsisten dengan efek buruk yang diketahui dari asupan gula tinggi pada faktor risiko metabolik dan bukti kuat bahwa minum minuman manis meningkatkan risiko diabetes tipe 2, sendiri merupakan faktor risiko utama kematian dini" ujar profesor epidemiologi dan nutrisi Walter Willett.

Willett menjelaskan, hasil dari penelitian tersebut juga memberikan dukungan lebih lanjut untuk kebijakan membatasi pemasaran minuman manis kepada anak-anak dan remaja. Bahkan, dia mendorong untuk menerapkan pajak soda karena harga minuman manis saat ini tidak termasuk biaya tinggi untuk mengobati konsekuensi yang ditimbulkannya.


Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA