Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

60 Tahun IPB: Menemukan Kembali Semangat Bung Karno

Sabtu 28 Apr 2012 02:22 WIB

Red: Heri Ruslan

Logo IPB

Logo IPB

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Laily Rahmawati/Antara

Tahun 2012 ini tepatnya 27 April yang jatuh di hari Jumat, Institut Pertanian Bogor merayakan 60 tahun peletakan batu pertama pembangunan gedung Fakultas Pertanian Universitas Indonesia di Baranangsiang Bogor yang kini dikenal dengan IPB Baranangsiang.

Pembangunan kampus IPB Baranangsiang pada tahun 1952 menjadi momentum bangkitnya pendidikan pertanian di Indonesia, peletakan batu pertama gedung tersebut dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia Ir Soekarno.

Alumni, dosen dan insan civitas kampus IPB bersuka cita menyambut perayaan 60 tahun pembangunan kampus IPB yang menjadi cikal bakal lahirnya para kaum intelektual Indonesia khususnya di bidang pertanian.

"Mempelajari sejarah berdirinya Fakultas Ilmu Pengetahuan Pertanian, Universitas Indonesia, di Bogor, merupakan suatu hal yang sangat penting. Pendirian fakultas tersebut merupakan cikal bakal berdirinya Institut Pertanian Bogor sekaligus menandai babak baru pendidikan tinggi pertanian di Indonesia sejak kemerdekaan bangsa ini tahun 1945," kata Rektor IPB Prof Herry Suhardyanto saat ditemui dalam acara peresmian gedung pendidikan IPB di Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jumat.

Pada momen bersejarah tersebut Presiden Soekarno menyampaikan pidatonya "Hidup atau mati bangsa Indonesia yang telah menggugah kaum muda Indonesia pada waktu itu untuk melanjutkan studinya ke pendidikan tinggi pertanian.

Di dalam buku Sekelumit sejarah berdirinya Fakultas Ilmu Pengetahuan Pertanian dan Gedungnya di Baranangsiang Bogor yang diterbitkan dalam rangka perayaan 60 tahun kebangkitan pendidikan pertanian Indonesia menyebutkan, kebutuhan akan tenaga pertanian telah dirasakan sejak lama oleh pemerintah kolonial Belanda. Hal ini dipenuhi dengan mendatangkan lulusan Universitas Wageningen di negara Belanda.

Keinginan untuk mendirikan sekolah Tinggi Pertanian (Landbouwhogeschool di Hindia Belanda pada waktu itu telah muncul pada tahun 1918, namun tetap ditolak mentah-mentah oleh pemerintah kolonial Belanda.

Usul tersebut muncul kembali pada tahun 1926-1927 tetapi masih ditolak dengan alasan tidak cukup jumlah lulusan sekolah menengah yang memenuhi syarat, karena pada tahun 1927 Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta dibuka.

Pada tahun 1930-1931, pada waktu pembahasan pendirian Fakultas Sastra di Jakarta, pemerintah kolonial Belanda kembali memikirkan pendirian Fakultas Pertanian.
Demikian pula sampai penghujung tahun 1930-an pendirian Sekolah Tinggi Pertanian selalu ditunda dengan berbagai alasan, di antaranya anggaran yang tidak tersedia dan perlunya suatu kajian terlebih dahulu.

Pada tahun 1940, seorang putra Indonesia Prof. Dr. P.A. Hoesein Djajadinigrat yang waktu itu adalah pejabat Direktur Pengajaran dan Urusan Kehormatan (dan juga anggota Volksraad) menulis surat kepada Gubernur Jenderal Hidia Belanda untuk dengan segera membentuk Komisi Pengkajian Pendirian Sekolah Tinggi Pertanian.

Beberapa hari kemudian terbit Surat Keputusan Gubernur Jenderal tentang Komisi Pengkajian tersebut lengkap dengan keanggotaanya, yang terdiri atas enam orang.
Salah seorang anggotanya adalah R.M Iso Reksohadiprodjo, Pejabat Kepala Dinas Penyuluhan Provinsi di Semarang, dan merupakan satu-satunya bangsa Indonesia dalam komisi tersebut.

Komisi memberikan justifikasi yang didukung oleh data dan informasi tentang jumlah tenaga pertanian berpendidikan tinggi yang ada dan proyeksi tenaga yang dibutuhkan per tahun untuk mendukung pengembangan pertanian.

Komisi menyatakan bahwa yang dimaksud dengan pertanian termasuk kehutanan, peternakan dan perikanan. Komisi juga mempertimbangkan pembukaan Sekolah Tinggi Kedokteran Hewan untuk mendukung perkembangan pertanian di Hindia Belanda.

Dikemukakan pula oleh Komisi bahwa Sekolah Tinggi Pertanian Landbouwhogeschool yang akan didirikan tidak semata-mata hanya sebagai lembaga pendidikan tinggi saja, melainkan wadah tempat ilmu pengetahuan pertanian dalam bentuknya yang menyeluruh dipelajari dan dikembangkan.

Oleh karena itu Sekolah Tinggi Pertanian harus ditempatkan di tengah-tengah lingkungan yang sesuai. Ada tiga pilihan tempat yang diperdebatkan pada masa itu yakni Jakarta, Bogor atau Bandung.

Dengan berbagai pertimbangan akhirnya pilihan jatuh pada Kota Buitenzorg atau Bogor. Salah satu pertimbangan yang dicatat karena Kota Bogor sudah ada laboratorium, lembaga-lembaga penelitian dan penelitian handal dalam ilmu pertanian.

Pada waktu itu ada sembilan badan atau lembaga penelitian terkait pertanian yakni Kebun Raya, Lembaga Penelitian Umum (Balai penelitian tanaman, ilmu tanah, teknik budidaya dan ilmu hama dan penyakit tanaman), Lembaga Penelitian Kehutanan, Laboratorium Penelitian Kimia, Lembaga Penelitian Kedokteran Hewan, Sekolah Kedokteran Hewan, Laboratorium Perikanan Air Tawar, Lembaga Penelitian "West Java" dan Lembaga Riset Karet.

Pada tahun 1940 Pemerintah kolonial Belanda menyatakan bahwa Bogor adalah tempat kedudukan terbaik bagi Sekolah Tinggi Pertanian.

Bogor adalah pusat pengembangan ilmu-ilmu pertanian dan Sekolah Tinggi Pertanian merupakan mahkota alaminya (natuurlijk bekroning).

Sejarah terus bergulir hingga tahun 1940 perkuliahan sekolah Tinggi Kedokteran di Batavia dimulai karena putusnya hubungan antara Hidia Belanda dan Negeri Belanda. Untuk mengatasi hal tersebut Gubernur Hidia Belanda mengeluarkan surat keputusan bahwa propadeuse (persiapan-red) Fakultas Ilmu Pengetahuan Pertaian (Faculteit van Landbouwwetenschap) akan dimulai.

Sejak saat itu, Komisi Pengkajian Pendirian Sekolah tinggi Pertanian bekerja secara intensif, mengumpulkan informasi data primer melalui penyebaran angket secara luas kepada pihak-pihak terkait dan mempelajari informasi data sekunder berbagai laporan komisi relevan.

Dalam kajian tersebut dibahas sejumlah pokok pendirian Fakultas Ilmu Pertanian seperti perkiraan kebutuhan tenaga ahli pertanian dan kemungkinan penempatannya, minat lulusan sekolah menengah yang mendaftar pada tahun akademik 1940/1941.

Selain itu juga dibahas mata kuliah yang terperinci agar para mahasiswa tidak kehilangan pandangan menyeluruh mengenai pokok persoalan pertanian yang sebenarnya.
Secara lebih khusus lulusan Fakultas Ilmu-ilmu Pertanian hendaknya dapat memimpin suatu perusahaan pertanian atau dapat menilai dan membawa serta mengelola usaha tani menjadi sebaik mungkin.

Untuk mencapai hasil lulusan sebagaimana diharapkan, maka ilmu pertanian digolongkan ke dalam dua kelompok yakni berhubungan dengan pertumbuhan tanaman atau hewan dan keadaan lingkungan yang memiliki pengaruh terhadap tanaman dan hewan. Sedangkan kelompok ke dua yakni berhubungan dengan proses memperoleh hasil pertanian dan kehidupan masyarakat yang menentukan proses memperoleh hasil.

Sekelumit sejarah berdirinya Fakultas Ilmu Pertanian Indonesia terus berlanjut hingga memasuki Maret 1942, Jepang mendarat di Hindia Belanda dan menduduki kawasan ini sampai pertengahan Agustus 1945.

Pada masa penjajahan Jepang, hanya dua Perguruan Tinggi Kedokteran Jakarta (Djakarta Ika Daigaku) dan Perguruan Tinggi Teknik Bandung (Bandung Koogyo Daigaku) yang dibuka. Fakultas lainnya termasuk Fakultas ilmu-ilmu pertanian ditutup.

Pada 17 Agustus 1945 Bangsa Indonesia memproklamirkan kemedekaannya. Beberapa hari kemudian, Pemerintah RI mendirikan Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia (BPTRI) yang terdiri atas Perguruan Tinggi Kedokteran, dan Perguruan Tinggi Hukum/Sastra di Jakarta.

Pendirian Fakultas Ilmu Pertanian Indonesia memang tidak terlepas dari sejarah perjuangan bangsa meraih kemerdekaan. Hingga pada tanggal 16 September 1945 tentara Sukutu mendarat di Jakarta diboncengi tentara Belanda yang kembali ingin berkuasa di Indonesia.

Untuk menunjukkan bahwa Belanda telah kembali ke Indonesia dan pemerintahnya menaruh perhatian pada pendidikan tinggi, pada tanggal 21 Januari 1946 pemerintah Belanda membuka Nood Universiteit (Universitas Darurat) di Jakarta.

Nood Universiteit terdiri atas lima fakulteit yakni fakultait kedokteran, filsafat hukum, fakulteit teknik, fakulteit sastra dan filsafat, serta fakulteit ilmu-ilmu pertanian.

Pada tanggal 27 Desember 1949 melalui Konferensi Meja Bundar (KMB) Pemerintah Belanda menyerahkan kedaulatan dan seluruh aset atas Indonesia kepada Pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS).

Universiteit van Indonesie diserahkan kepada Pemerintah RIS. Pada tahun 1950 Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia digabung dengan Universiteit van Indonesie.
Pengembangan kedua institusi perguruan tinggi ini dinamakan Universitas Indonesia atau Balai Perguruan Tinggi RIS.

Dengan demikian Fakulteit Pertanian Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia menjadi Fakulteit Pertanian Universiteit Indonesia. Yang pada tahun 1955 berdasarkan UU RIS nomor 10, penggunaan kata-kata fakulteit diganti masing-masing menjadi fakultas dan universitas.

Suatu sayembara untuk merancang desain arsitektur kompleks gedung-gedung untuk fakultas pertanian Universitas van Indonesia di lokasi sekarang diadakan pada pertengahan bulan Oktober 1948.

Peletakan batu pertama pembanguan gedung Baranangsiang dilakukan pada tanggal 27 April 1952 oleh Presiden Ri Soekarno. Pada kesempatan tersebut Bung Karno menyampaikan pidatonya yang sangat menggugah "Hidup mati bangsa Indonesia".

"Pada saat itu Bung Karno menyampaikan pesannya dalam pidato yang mengemukakan arti penting penyediaan makanan bagi rakyat. Sedemikian pentingnya sehingga Bung Karno menyebutkan persoalan pangan sebagai "soal hidup matinya bangsa ini," kata Rektor.

Pidato Presiden Soekarno ini membahas paling tidak dua aspek penting yaitu mengenai pembangunan pertanian khusus pangan yang memprihatinkan dan mengenai pendidikan tinggi pertanian yang kurang diminati pemuda-pemudi Indonesia.

Rektor menyebutkan, sejarah berdirinya pendidikan tinggi pertanian di Indonesia sangat kental dengan nuasa perjuangan untuk mendirikan bangsa Indonesia dalam sistem produksi pangan dan pertanian untuk menyejahterakan bangsa.

Mengetahui latar belakang dan proses kelahiran Fakultas Ilmu Pengetahuan Pertanian, kata Rektor, merupakan suatu hal yang sangat penting dilakukan untuk merefleksikan nilai-nilai sejarah bagi pengembangan pendidikan tinggi pertanian pada masa yang akan datang.

"Dari pidato Bung Karno saja kita dapat belajar banyak hal. Salah satu pemikiran visioner yang tergambar dari pidato itu adalah perlunya perencanaan jangka panjang," ujarnya.

Bung Karno, ujar Rektor, menyatakan dengan sangat tegas bahwa masalah pangan hanya dapat diselesaikan oleh para ahlinya. Ahli di sini adalah orang-orang yang memiliki pemahaman yang baik dan dibangun melalui pendidikan pertanian dan pangan.

"Bung Karno tidak mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalah pangan saat itu, tetapi mempersiapkan generasi muda dengan pendidikan pertanian dan menggugah kesadaran akan pentingnya pangan sehingga kelangkaan pangan tidak terulang lagi pada masa depan," kata Rektor.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA