Kamis, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Kamis, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Mahasiswa UMY Gagas Laundry Syariah Ramah Lingkungan

Rabu 11 Jul 2012 07:43 WIB

Rep: Neni Ridarineni/ Red: Dewi Mardiani

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA --  Bisnis laundry di Yogyakarta sudah menjamur. Namun, biasanya menggunakan bahan kimia yang dapat mencemari lingkungan. Berbeda halnya dengan Laundry Syariah yang idenya dibuat oleh mahasiswa Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ita Usnatin, Fauzia Wulandari, dan Muhibudin Ahmad.

Mereka diikutsertakan dalam  PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) ke-25 kategori Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan di Kampus Terpadu UMY Yogyakarta. Menurut Ita Usnatin, laundry Syariah  yang diberi nama Ath-Thura menggunakan konsep bersuci atau thaharah tersebut sebagai alternatif laundry yang menjamin kesucian dan ramah lingkungan dengan bahan alami. 

''Ajaran Islam begitu sempurna dan menyeluruh. Islam sebagai salah satu pengarah dalam segala aspek kehidupan kita. Mulai dari dari yang kecil dan sepele seperti urusan mencuci sampai ke hal–hal yang besar lainnya,'' tutur dia saat menyampaikan presentasinya di hadapan juri.

 

Konsep syariah ini, kata Usna, panggilan Ita Usnatin, diterapkan pada saat proses pencucian dengan menggunakan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ditetapkannya. Setelah pakaian pelanggan diterima kemudian ditimbang, selanjutnya akan dihitung dan dipilah-pilah, lalu dilakukan pembilasan dengan air biasa, baru kemudian dicuci.

''Pembilasan inilah bagian dari konsep suci yang berfungsi untuk membersihkan kotoran-kotoran yang menempel sebelumnya. Sehingga, pada saat nanti dicuci kotoran tidak ikut tercampur. Pada proses pembilasan ini juga dapat diketahui pakaian tersebut luntur atau tidak,'' jelas dia.

Selanjutnya dalam konsep ramah lingkungan dan bahan alami, Usna memilih menggunakan lerak sebagai alternatif pengganti sabun cuci. Lerak ini dipilih karena berawal dari sebuah kebiasaan yang ada bahwa lerak digunakan untuk mencuci batik. Batik merupakan salah satu bahan yang mudah kusam jika tidak dicuci dengan benar.

Penggunaan lerak tersebut juga sebagai bentuk tanggung jawabnya untuk mengurangi terjadinya pencemaran air. Air bekas cucian yang menggunakan sabun merupakan salah satu penyumbang pencemaran air. Sabun salah satu bahan yang tidak mudah diuraikan tanah sehingga bisa terbawa air dan mencemarinya. "Lerak merupakan bahan alami yang mudah diuraikan,''jelas Usna.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA