Jumat, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 Desember 2019

Jumat, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 Desember 2019

Panen Udang Selalu Gagal, Ribuan Hektare Tambak Terlantar

Rabu 02 Okt 2013 17:43 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Heri Ruslan

SEORANG warga membersihkan udang windu usai panen di sekitar tambak udang desa Karangsong, Indramayu, Jawa Barat.

SEORANG warga membersihkan udang windu usai panen di sekitar tambak udang desa Karangsong, Indramayu, Jawa Barat.

Foto: ANTARA/Dhedez Anggara

REPUBLIKA.CO.ID,  INDRAMAYU -- Ribuan hektare tambak udang di lima desa di Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu, diterlantarkan para pemiliknya. Hal itu lakukan karena hasil panen udang selalu rugi. Ditambah lagi, saat ini areal tambak memasuki masa pengeringan.
 
Adapun kelima desa tersebut, yakni Desa Lamarantarung, Panyingkiran Lor, Panyingkiran Kidul, Cantigi Wetan, dan Cantigi Kulon. Berdasarkan pantauan, ribuan hektare tambak di kelima desa itu tampak mengering hingga tanahnya terlihat retak-retak. Pintu tambak yang terbuat dari bambu pun perlahan rusak dan keropos.
 
‘’Sekarang ini percuma saja budidaya udang, selalu rugi dan rugi,’’ ujar seorang pemilik tambak di Blok Pulo Mas Desa Panyingkiran Lor, Kecamatan Cantigi, Wasono, Rabu (2/10).
 
Pria pemilik tambak seluas tiga hektare itu menjelaskan, selama dua bulan terakhir,  dia sudah empat kali melakukan tanam ulang udang jenis vaname. Namun, dari empat  kali tanam tersebut, tidak satupun yang berhasil. 
 
‘’Udang yang saya budidayakan mati mendadak saat berumur 25 hari,’’ keluh Wasono.
 
Hal senada diungkapkan petambak lainnya, Kasidin (47). Dia menyatakan, sudah mengeluarkan modal besar untuk tanam udang hingga beberapa kali. Bahkan, modal itu diperolehnya dari hasil menjual dua unit sepeda motor miliknya.
 
Namun ternyata, lanjut Kasidin, udang yang dibudidayakannya mati sebelum masanya dipanen. Akibatnya, dia menanggung kerugian yang besar.
 
‘’Karena gagal terus, untuk sementara ini saya tinggalkan tambak begitu saja,’’ kata petambak asal Desa Cantigi Wetan tersebut.
 
Kasidin mengakui, tidak mengetahui penyebab kematian udang yang dibudidayakannya. Dia menjelaskan, udang yang semula sehat, tiba-tiba mati. Dia menduga, udang-udang miliknya  tidak tahan terhadap perubahan cuaca yang ekstrim akibat anomali cuaca tahun ini.
 
‘’Hal itu juga terjadi pada udang milik petambak lainnya,’’ kata Kasidin.
 
Akibatnya, para petambak yang udangnya sudah berumur 1,5 bulan, memilih untuk melakukan panen dini. Padahal dalam kondisi normal, udang jenis vaname biasanya dipanen setelah berumur tiga sampai 3,5 bulan.
 
Panen dini itu secara otomatis berimbas pada ukuran udang. Jika dipanen secara normal, ukuran udang mencapai size 25 – 30 ekor per kilogram. Namun akibat panen dini tersebut, ukuran udang hanya 80 – 90 ekor per kilogram.
 
Sementara itu, akibat lahan tambak tidak bisa digunakan, para petambak pun sebagian memilih merantau ke Jakarta. Di ibu kota, mereka berusaha mengais rezeki demi keluarga di rumah.
 
‘’Ada yang jadi pemulung, kerja di pabrik, dan ada juga yang jadi pengemis,’’ tutur seorang warga yang tidak mau disebut namanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA