Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

ISI Denpasar Tunjukkan Cakrawala Keilmuan Seni

Ahad 27 Jul 2014 21:22 WIB

Red: Julkifli Marbun

ISI Denpasar

ISI Denpasar

Foto: [ist]

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar hingga kini mengelola 12 program studi sarjana strara satu dan satu program studi strata dua sebagai upaya menunjukkan luasnya cakrawala keilmuan seni.

"Mahasiswa yang datang ke ISI Denpasar dengan pilihan dan memiliki ketetapan hati untuk menjadi sarjana seni," kata Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Dr I Gede Arya Sugiartha di Denpasar, Minggu.

Dalam proses belajar mengajar, mahasiswa ISI didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai serta sumber daya tenaga dosen yang berkuaitas.

"ISI Denpasar menjadi pilihan tepat bagi generasi muda untuk menempa diri menuju cita-cita, didukung karakteristik masyarakat Bali yang menjadikan seni sebagai bagian integral dalam kehidupannya," ujar Arya Sugiartha.

Kondisi demikian mendorong pengembangan kreativitas seni budaya yang mendapat dukungan maksimal. Dikenalnya Bali sebagai daerah tujuan wisata utama Indonesia memberi peluang bagi ISI untuk mengembangkan kerja sama dalam skala lokal, nasional, maupun internasional.

"Semuanya itu harus disadari dibalik kekuatan dan peluang yang ada ISI Denpasar masih memiliki beberapa kelemahan yang bepotensi menjadi ancaman jika tidak segera diatasi," tutur Arya Sugiartha.

Ia menjelaskan bahwa akreditasi program studi di lingkungan ISI Denpasar yang sebagian besar baru bernilai B, memberi indikasi bahwa manajemen pengelolaan pendidikan masih perlu dibenahi secara terus menerus.

Pengembangan bidang penciptaan dan pengkajian masih belum seimbang. Dalam hal mencipta, mendesain, dan menyajikan karya seni dosen dan mahasiswa ISI sangat menggembirakan.

Namun dalam bidang pengkajian masih perlu ditingkatkan. Ancaman yang dihadapi lembaga pendidikan tinggi seni ini umumnya berkaitan dengan merebaknya paradigma berfikir positivistik dan rasionalitas yang sering mengabaikan sendi-sendi imajinatif sehingga kualitas karya seni sering dipertaruhkan untuk kepentingan eknomi belaka.

Ketika kesenian Bali kini menjadi ruang publik yang diperebutkan, ISI Denpasar harus mampu memberi pencerahan untuk mengembalikan dunia seni kepada fitrahnya sebagai pembentuk karakter bangsa.

Adanya persaingan pasar kerja yang semakin ketat, ISI Denpasar telah memberikan pengetahuan kewirausahaan kepada peserta didik agar menjadi sarjana seni yang integrated professional, yakni memiliki keterampilan yang handal dan mampu menjadikan seni sebagai sumber penghidupannya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA