Minggu, 18 Zulqaidah 1440 / 21 Juli 2019

Minggu, 18 Zulqaidah 1440 / 21 Juli 2019

Gubernur NTT: Budi Daya Padi SRI Layak Direplikasi

Sabtu 21 Okt 2017 19:24 WIB

Rep: Christiyaningsih/ Red: Gita Amanda

Gubernur NTT Frans Lebu Raya saat melakukan panen raya si Desa Tarus, Kab. Kupang, NTT.

Gubernur NTT Frans Lebu Raya saat melakukan panen raya si Desa Tarus, Kab. Kupang, NTT.

Foto: Christiyaningsih/REPUBLIKA

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG -- Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Frans Lebu Raya mengatakan sistem budidaya padi SRI (System of Rice Intensification)merupakan sistem yang patut dicontoh dan diimplementasikan di seluruh NTT. Sistem ini disebut sebagai solusi dari persoalan masyarakat petani di Desa Baumata dan Tarus yang terkendala persediaan air untuk irigasi pertanian.

"Semoga metode ini dapat diterapkan di seluruh NTT, karena hasil nyatanya sudah dirasakan oleh petani di Tarus dan Baumata," kata Frans dalam acara panen raya di Desa Tarus, Kabupaten Kupang, NTT hari ini (21/10).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produktivitas petani padi provinsi NTT berada di bawah rata-rata nasional pada tahun 2015 sebesar 3,56 ton Gabah Kering Giling (GKG) per hektare. Angka ini 67 persen dibawah produktivitas nasional yang berada pada level 5,34 ton per hektare. Akibatnya 20 persen kebutuhan beras di NTT harus didatangkan dari luar daerah seperti Surabaya dan Makassar.

Produktivitas petani padi NTT jauh di bawah provinsi tetangga seperti NTB dengan 5,17 ton per hektare atau Maluku dengan 5,57 ton per hektare. Oleh karena itu, dengan metode SRI, diharapkan akan ada perbaikan produktivitas padi di provinsi yang dipimpinnya.

Jika metode SRI diterapkan dalam skala lebih luas disertai pendampingan dalam hal proyeksi cuaca untuk menentukan masa tanam berbasis teknologi, maka besar potensi NTT menjadi provinsi yang swasembada beras di masa datang. Kondisi ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

Anggota kelompok petani Desa Tarus Yanes Sain, turut menyampaikan antusiasme karena ikut merasakan dampak positif dari program SRI ini. "Awalnya petani masih ragu, karena pola tanam satu anakan ini kami anggap sangat beresiko," jelas Yanes.

Namun hasil yang diperoleh justru sebaliknya. Lahan seluas 10 are demplot biasanya hasil panen sebesar 600 kilogram gabah. Sejak menggunakan metode SRI, produksi padi meningkat seratus persen menjadi 1.200 kilogram.

Sekretaris Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM)Murtiningrummengatakan implementasi program budidaya padi SRI ini dipilih Desa Baumata, Kecamatan Tabenu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Pemilihan dikarenakan karakteristik desa yang berpenduduk 2.442 jiwa dan 95 persen warganya bermata pencaharian sebagai petani. Namun kurang memadainya infrastruktur irigasi serta jalur irigasi yang tidak permanen membuat risiko gagal panen di desa ini sangat besar. Tercatat di tahun 2015, dari 146 hektare lahan pertanian di Desa Baumata, 34,5 hektare gagal panen.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA