Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Dua Titik di Kota Sukabumi Dilanda Bencana

Senin 16 Apr 2018 16:16 WIB

Rep: Riga Nurul Iman/ Red: Andi Nur Aminah

Salah satu rumah yang rusak berat akibat bencana pergerakan tanah di Sukabumi, Jawa Barat (ilustrasi)

Salah satu rumah yang rusak berat akibat bencana pergerakan tanah di Sukabumi, Jawa Barat (ilustrasi)

Foto: Antara/Budiyanto
Akses jalan sempat tertutup oleh pohon yang roboh.

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Sebanyak dua titik di Kota Sukabumi dilanda bencana pada Ahad (15/4) sore lalu. Peristiwa tersebut terjadi ketika wilayah Sukabumi diguyur hujan deras. "Ada dua laporan bencana pada Ahad di Kecamatan Cikole," terang Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi Zulkarnain Barhami kepada wartawan Senin (16/4).

Bencana pertama yakni pohon tumbang di Jalan Ciaul Pasir RT 05 RW 08, Kelurahan Subangjaya, Kecamatan Cikole. Zulkarnain mengatakan, hal ini diakibatkan oleh hujan deras pada Ahad sore. Dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa namun akses jalan sempat tertutup oleh pohon yang roboh.

Sementara bencana kedua menimpa sebanyak empat unit rumah di Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cikole Kota Sukabumi yang terdampak dari jebolnya tanggul saluran air, Ahad sore. Bencana ini tepatnya terjadi di Kampung Ciaul Pangkalan RT 06 RW 14, Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi. "Tanggul jebol mengenai empat unit rumah," terang Zulkarnain.

Ke empat rumah tersebut merupakan milik Adang, Mimi, Usep, dan Santi. Menurut Zulkarnain, tanggul yang jebol ini mengenai area sekitar 50 meter. Petugas sudah dikerahkan ke lokasi kejadian untuk melakukan penanganan.

Peristiwa ini kata dia  terjadi karena tingginya intensitas hujan pada Ahad. Dampaknya tanggul saluran air yang berada di dekat permukiman warga jebol.

Zulkarnain menuturkan, Kota Sukabumi masih menerapkan status siaga darurat bencana banjir dan longsor hingga 31 Mei 2018 mendatang. Sebelumnya wali kota Sukabumi telah menetapkan status tersebut pada 1 Desember 2017 hingga 31 Mei 2018. Oleh karena itu ungkap Zulkarnain masyarakat khususnya di daerah rawan bencana tetap diminta waspada menghadapi bencana. Langkah ini untuk menekan timbulnya kerugian materiil akibat bencana maupun korban jiwa.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA