Rabu, 15 Jumadil Akhir 1440 / 20 Februari 2019

Rabu, 15 Jumadil Akhir 1440 / 20 Februari 2019

Warga Lampung Padati Tugu Adipura Doakan Korban Tsunami

Selasa 01 Jan 2019 03:03 WIB

Rep: Mursalin Yasland/ Red: Dwi Murdaningsih

Pengungsi korban tsunami dari Pulau Sebesi dan Sebuku Lampung Selatan memilih pakaian layak pakai di Posko pengungsian Kalianda, Lampung Selatan, lampung, Jumat (28/12/2018).

Pengungsi korban tsunami dari Pulau Sebesi dan Sebuku Lampung Selatan memilih pakaian layak pakai di Posko pengungsian Kalianda, Lampung Selatan, lampung, Jumat (28/12/2018).

Foto: Antara/Ardiansyah
Lampung menggelar istighosah kubro.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDAR LAMPUNG – Sejumlah warga Kota Bandar Lampung memadati Bundaran Tugu Adipura mengikuti istighosah pada malam tahun baru 2019, Senin (31/12). Acara istighosah yang digagas Pemkot Bandar Lampung khusus mendoakan korban musibah tsunami Selat Sunda di Kabupaten Lampung Selatan.

Malam pergantian tahun 2018 ini berbeda dengan acara tahun baru sebelumnya. Khusus malam tahun baru 2019, Pemkot Bandar Lampung bersama Majelis Taklim Rachmat Hidayat menggelar zikir dan doa bersama di pusat kota berjuluk Tapis Berseri tersebut. Pegantian tahun dari 2018 ke 2019 adalah hal istimewa karena Provinsi Lampung sedang dilanda musibah tsunami yang menelan korban sebanyak 118 jiwa meninggal, ribuan luka-luka.

Wali Kota Bandar Lampung Herman HN mengatakan, istighosah kubro yang digelar di Bundaran Tugu Adipura tersebut khusus untuk mendoakan saudara-saudara warga Lampung khususnya yang berada di Kabupaten Lampung Selatan yang sedang diuji Allah SWT.

“Marilah kita doakan korban yang meninggal, agar diterima Allah SWT, diampuni dosa-dosanya, dan diterima amal ibadahnya. Kepada keluarga yang ditinggalkan semoga tabah dan sabar dalam menerima cobaan tersbut. Sedangkan yang luka-luka segera sembuh dan beraktivitas lagi,” kata Herman HN.

Selain mendoakan korban musibah tsunami di Lampung, Herman mengatakan menyambut tahun baru 2019, ia berharap semua pihak juga mendoakan agar Negeri Indonesia mendapat perlindungan dari Allah SWT, dijauhi segala macam musibah, dan mendapatkan rahmat-Nya.

Acara istighosah kubro tersebut diisi dengan pembacaan zikir, doa, dan diselingi dengan tausyiah dari ustadz. Kegiatan tersebut, mendapat sambutan dari warga Kota Bandar Lampung yang datang dari berbagai kelurahan. Biasanya, Bundaran Tugu Adipura, setiap malam pergantian tahun sejak petang hingga pukul 24.00 dipadati pengunjung dengan pesta kembang api dan petasan.

“Kalau setiap malam tahun baru seperti ini, semoga kota ini mendapat berkah dari Allah SWT. Selama ini kita selalu pesta hura-hura dengan mengeluarkan duit yang banyak hanya untuk membakar kembang api dan petasan,” kata Nada, seorang remaja perempuan warga Kemiling.

Ia berharap pemimpin kota dan provinsi di Lampung dan masyarakatnya tetap terus mengingat Allah tidak saja pada malam pergantian tahun, tetapi setiap saat, agar Allah juga selalu mengingat kita. “Jangan hanya malam ini, tapi setiap saat, agar Allah sayang sama kita,” ujarnya.

Tak hanya di pusat kota, kegiatan istighosah juga dilaksanakan di beberapa masjid dalam kota. Masjid Al-Ikhlas di Beringin Raya, misalnya. Setiap malam pergantian tahun, pengurus masjid menggelar istighosah untuk berdoa kebaikan bersama. “Khusus malam ini kita mendoakan saudara-saudara kita di Kabupaten Lampung Selatan yang dilanda musibah tsunami,” kata Gito, ketua Takmir Masjid Al-Ikhlas.

Pemantauan Republika.co.id, Sabtu (31/12) malam, aktivitas warga yang biasanya menggelar konvoi kendaraan sambil meniup terompet, dan menyalakan kembang api dan membunyikan petasan, sudah sangat berkurang, tidak seperti acara pergantian tahun baru sebelumnya. Mayoritas warga tidak membeli terompet, kembang api, apalagi petasan.

Warga Lampung memang berduka, karena warga di Kalianda dan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan menjadi korban musibah gelombang tsunami Selat Sunda yang terjadi pada Sabtu (22/12) lalu. Tak hanya di Kota Bandar Lampung, kegiatan malam tahun baru juga diisi dengan istighosah dan kegiatan keagamaan di beberapa kabupaten di Lampung.

“Tidak pantas dan tidak wajar, kalau warga Lampung merayakan malam tahun baru dengan berpesta pora dan hura-hura, sedangkan saudara kita sedang ditimpa musibah tsunami,” kata Lina, warga Bandar Lampung.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES