Jumat, 17 Jumadil Akhir 1440 / 22 Februari 2019

Jumat, 17 Jumadil Akhir 1440 / 22 Februari 2019

Longsor Sukabumi, BNPB: Lima Meninggal, 38 Masih Dicari

Selasa 01 Jan 2019 11:58 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Andri Saubani

Lokasi longsor di Kampung Cimapag Desa Sinaresmi Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi Selasa (1/1).

Lokasi longsor di Kampung Cimapag Desa Sinaresmi Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi Selasa (1/1).

Foto: Republika/Riga Nurul Iman
Bencana longsor terjadi pada Senin (31/12) pukul 17.30 WIB.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Proses evakuasi, pencarian, dan penyelamatan korban longsor di Sukabumi yang menimbun 30 unit rumah terus dilakukan oleh tim SAR gabungan di Dusun Garehong Desa Sirnaresmi Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Bencana longsor terjadi pada Senin (31/12) pukul 17.30 WIB.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menuturkan, data sementara per 1 Januari 2019 pukul 10.00 WIB dari Posko Tanggap Darurat di Desa Sirnaresmi tercatat 32 KK atau 107 jiwa terdampak longsor. Dari jumlah itu, lima orang meninggal dunia, tiga orang luka-luka, 61 orang selamat yang ditempatkan di pengungsian, dan 38 orang belum ditemukan.

"Pada hari ini hingga pukul 10.00 WIB ditemukan tiga korban meninggal dunia yaitu satu orang laki-laki, satu orang perempuan dan satu orang bayi," tutur dia dalam keterangan resmi, Selasa (1/1).

Sebelumnya, pada 31 Januari malam lalu ditemukan dua orang korban meninggal dunia di mana satu laki-laki dan satu perempuan. Sehingga, total korban meninggal hingga saat ini 5 orang.

Sutopo melanjutkan, tim SAR gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, SKPD, relawan dan masyarakat masih terus melakukan pencarian terhadap 38 orang korban yang diduga masih tertimbun longsor. Pencarian masih dilakukan secara manual karena alat berat sulit didatangkan di lokasi bencana.

"Tiga alat berat sudah disiapkan namun masih sulit didatangkan ke lokasi karena akses jalan yang sempit, berbukit dan medannya berat," tuturnya.

Bantuan, ungkap Sutopo, terus berdatangan tapi terhambat oleh banyaknya masyarakat yang melihat bencana. Wisata bencana seperti ini selalu terjadi di saat bencana. Masyarakat berdatangan ingin melihat lokasi bencana. Ada juga ingin menengok dan membantu kerabat yang terkena bencana.

"Kondisi jalan yang sempit menyebabkan bantuan, baik personil SAR, logistik, ambulan dan sebagainya terhambat kemacetan. Hal ini juga terjadi saat penanganan bencana seperti tsunami di Pandeglang dan Serang, longsor Banjarnegera, longsor Brebes, jebolnya Situ Gintung dan sebagainya," katanya.

Longsor susulan, kata Sutopo, pun masih terjadi meski intensitasnya kecil. Kondisi tanah juga rapuh, terurai dan berlumpur akibat hujan menyebabkan kesulitan tim SAR mencari korban. BPBD Kabupaten Sukabumi, BPBD Provinsi Jawa Barat, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan dan relawan memberikan bantuan logistik dan pelayanan kesehatan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES