Monday, 18 Rajab 1440 / 25 March 2019

Monday, 18 Rajab 1440 / 25 March 2019

Target Rekonstruksi NTB Diperkirakan Molor

Jumat 11 Jan 2019 13:47 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Gita Amanda

Foto udara bangunan rumah warga korban bencana gempa bumi di Desa Kekait, Gunungsari, Lombok Barat, NTB, Senin (1/10).

Foto udara bangunan rumah warga korban bencana gempa bumi di Desa Kekait, Gunungsari, Lombok Barat, NTB, Senin (1/10).

Foto: ANTARA FOTO
Hingga kini baru 120 hunian tetap (huntap) yang berhasil dibangun dan siap huni.

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) NTB IGB Sugihartha pesimistis rehabilitasi dan rekonstruksi rumah pascagempa akan mampu rampung pada Maret, seperti yang sudah ditargetkan pada tahun lalu. Hingga kini baru 120 hunian tetap (huntap) yang berhasil dibangun dan siap huni.

"Kita berharap pada Maret ini bisa terselesaikan, namun banyaknya jumlah rumah yang rusak kelihatan agak sulit untuk kita menyelesaikan Maret," ujar Sugihartha di Mataram, NTB, Jumat (11/1).

Sugihartha menyebutkan, jumlah 120 rumah masih jauh dari total rumah rusak berat yang mencapai sekira 75 ribu rumah. Namun, kata dia, progress rumah yang sedang dalam pembangunan sudah mencapai sekira empat ribu rumah.

"Memang yang terbangun belum banyak, tapi memang sedang berprogress. Tentunya upaya-upaya terus kita tingkatkan percepatan untuk penyelesaiannya," kata Sugihartha.

Dia menjelaskan, dari segi pendanaan sejatinya sudah tidak ada masalah karena pemerintah pusat sudah memberikan dana sebesar Rp 3,5 triliun untuk rehabilitasi dan rekonstruksi di NTB. Uang tersebut sudah diterima warga terdampak gempa melalui rekening masing-masing. Tahap selanjutnya, dana tersebut akan ditransfer ke rekening kelompok masyarakat (pokmas) untuk kemudian dibelikan bahan bangunan dan juga pengerjaannya.

Ia melanjutkan, hingga saat ini sudah terbentuk sekira 490 pokmas yang sudah mulai mempersiapkan pembangunan rumah. Satu pokmas biasanya terdiri atas 10 sampai 15 Kepala Keluarga (KK) dan diprediksi total mencapai tujuh ribu KK yang sedang mempersiapkan dan membangun rumah. Kendati begitu, persoalan tidak lantas selesai begitu saja. Aspek tenaga kerja masih menjadi kendala utama.

"Kita bisa bayangkan membangun satu rumah untuk tipe 36 kalau tukang cuma dua berapa lama, apalagi ini yang jumlahnya banyak. Kita harus cari tukang, siapkan bahan-bahan yang juga punya proses cukup panjang sehingga membutuhkan waktu," ucap dia.

Ia mengatakan, kendala rehabilitasi dan rekonstruksi berada pada keterbatasan jumlah tukang. Pemprov Jawa Timur, lanjut dia, siap membantu mengirimkan tukang dan bahan bangunan untuk NTB. Meski begitu, kata dia, NTB sedang memprioritaskan tenaga lokal untuk rehabilitasi dan rekonstruksi.

"Sepanjang kita bisa berdayakan tukang-tukang yang ada di NTB, kami berharap berdayakan itu dulu, dari luar hanya mendukung saja, tapi nanti kita lihat lagi pemetaannya seperti apa," katanya menambahkan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA