Minggu, 14 Jumadil Awwal 1440 / 20 Januari 2019

Minggu, 14 Jumadil Awwal 1440 / 20 Januari 2019

Duterte Memaki Uskup Katolik di Filipina

Sabtu 12 Jan 2019 17:28 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Presiden Duterte

Presiden Duterte

Foto: ABC News
Gereja banyak menentang perang narkoba ala Duterte.

REPUBLIKA.CO.ID, MANILA -- Presiden Filipina Rodrigo Duterte kembali menyerang uskup Katolik. Duterte menyebut para uskup di negara yang sebagian besar warganya adalah umat Katolik, sebagai orang "laknat".

Selama ini, uskup Katolik kerap mengkritik perang narkoba ala Duterte. Namun, Duterte, yang melancarkan perlawanan terhadap narkoba sejak memegang jabatan pada 2016 masih tetap populer.

"Cuma saya yang bisa memaki para uskup, ini kebenaran," kata Duterte dalam pidato pada peletakan batu pertama pembangunan sekolah di bagian utara ibu kota Manila.

Duterte tidak menyebut secara khusus kecamannya kepada gereja pada Kamis (10/1), termasuk gagasan bahwa kebanyakan uskup adalah homoseksual.

Baca juga, Filipina Lebih Baik Dipimpin Diktator.

Duterte yang tidak rajin ke gereja, pada awal masa kepresidenannya mengaku pernah mengalami pelecehan seksual pada masa kanak-kanak oleh seorang pastor.

Gereja Katolik Roma menghadapi skandal pelecehan seksual di berbagai belahan dunia, meskipun tidak ada kasus besar dilaporkan di Filipina. Dalam pidato sebelumnya Duterte juga mengolok-olok Tuhan dan ajaran Tritunggal yang Mahakudus.

Francis Lucas, pejabat pada Konferensi Wali Gereja Filipina, menyerukan jemaat menerima pihak lain yang kurang hormat.   "Kita harus lebih peka mengehadapi kepekaan dan kemampuan menerima atas sikap pihak lain yang kurang hormat," katanya kepada Reuters.

Perlawanan terhadap narkoba mendapat dukungan banyak pihak. Namun sebagian gereja menjadi lebih kritis terhadap pembunuhan dengan mengatasnamakan perang narkoba. Gereja meminta tindakan yang lebih adil dalam memberikan perlindungan ke pemakai narkoba.

Sekitar 5.000 orang terbunuh dalam operasi oleh polisi anti-narkoba yang didukung Duterte. Polisi menampik tudingan bahwa pembunuhan tersebut merupakan hukuman dan menyebut bahwa para pengedar narkoba itu terbunuh dalam baku tembak. Polisi  hanya membela diri.

Sekitar 80 persen dari sekitar 100 juta penduduk Filipina adalah penganut Katolik Roma.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES