Wednesday, 20 Zulhijjah 1440 / 21 August 2019

Wednesday, 20 Zulhijjah 1440 / 21 August 2019

BMKG: Banjir Sulsel karena Curah Hujan Ekstrem

Jumat 25 Jan 2019 19:15 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Esthi Maharani

Warga melewati jembatan darurat sementara yang terbuat dari bambu di desa Pallatikang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (24/1/2019).

Warga melewati jembatan darurat sementara yang terbuat dari bambu di desa Pallatikang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (24/1/2019).

Foto: Antara/Abriawan Abhe
Curah hujannya ada yang tercatat 110- 197 milimeter per hari

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan ada beberapa hal yang menyebabkan banjir di kawasan Sulawesi Selatan. Salah satunya adalah curah hujan ekstrem yang terjadi pada 21 Januari 2019 di wilayah Makassar dan sekitarnya.

"Pada saat kejadian pada 22 Januari 2019, itu hari sebelumnya tanggal 21 Januari 2019 memang ada curah hujan cukup tinggi di wilayah Sulawesi Selatan. Curah hujannya ada yang tercatat 110 milimeter, bahkan ada juga yang sampai 197 milimeter per hari," kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono R. Prabowo pada Republika, Jumat (25/1).

Curah hujan 51 sampai 100 milimeter merupakan kategori hujan lebat. Sementara itu, curah hujan di atas 100 milimeter termasuk hujan sangat lebat. Prabowo mengatakan, apabila curah hujan sudah di atas 150 milimeter maka termasuk hujan ekstrem.

Hujan ekstrem yang terjadi pada 21 Januari 2019 di kawasan Sulawesi Selatan menyebabkan tinggi muka air sungai meningkat. Waduk Bili-bili juga mengalami peningkatan. Selain itu, karena intensitas hujan yang tinggi, tanah tidak bisa menampung air hujan dengan baik sehingga timbullah banjir.

Prabowo juga menambahkan, posisi Sulawesi Selatan terbagi menjadi daerah perbukitan. Di tengah ada daerah perbukitan yang memanjang sampai Sulawesi Tengah. Oleh karena itu, hujannya kemudian turun ke daerah dataran rendah yakni Makassar, Gowa, Maros, dan sekitarnya.

"Daya serap daerah, ketika turun kan tanah ini akan menyerap air hujan yang turun. Tapi kalau kemudian itu daya serapnya sudah tidak mampu, ya berapapun yang turun akan dilewati begitu saja," kata Prabowo menjelaskan.

BMKG memperkirakan Indonesia masih dalam musim hujan sampai Februari atau awal Maret. Meskipun demikian, Prabowo memperkirakan, intensitas hujan tidak akan lebih tinggi daripada sebelum terjadinya banjir di Sulawesi Selatan.

"Kalau kita lihat kita masih pada kondisi musim hujan. Terkait sampai kapan masih akan hujan, paling tidak sampai Februari awal Maret meskipun kemungkinan tidak sebesar yang tanggal 21. Curah hujan akan menurun tapi belum akan berakhir," kata Prabowo.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA