Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Proyek Jalan di Sleman Berdampak Kemacetan Lalu Lintas

Senin 11 Feb 2019 18:56 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Yusuf Assidiq

Penutupan Jalan Gito-Gati di Simpang Denggung.

Penutupan Jalan Gito-Gati di Simpang Denggung.

Foto: Wahyu Suryana.
Kemacetan terjadi di beberapa titik, utamanya pada jam-jam sibuk.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Kemacetan semakin menjadi-jadi di Kabupaten Sleman, DIY. Selain volume kendaraan yang memang terus bertambah, kepadatan kendaraan merupakan dampak dari sejumlah proyek pembangunan jalan yang tengah berlangsung.

Beberapa proyek memang tengah berlangsung di Sleman. Akibatnya, kemacetan terjadi di beberapa titik, utamanya pada jam-jam sibuk yang membuat kepadatan kendaraan banyak terlihat.

Pembangunan Underpass Kentungan misalnya. Dua jalur Ring Road yang menuju Monjali maupun Gejayan praktis tersisa masing-masing satu lajur, dari tiga lajur yang biasanya ada.

Hal itu tentu saja membuat penumpukan kendaraan hampir dari semua arah yang menuju ke lampu merah Kentungan. Pasalnya, volume kendaraan yang bisa melintas mengalami pengurangan secara drastis dari hari-hari biasa.

Di sisi lain, pengurangan waktu lampu hijau akibat pengaturan lampu apill pada dua arah lainnya, membuat kemacetan di Jalan Kaliurang. Itu terjadi baik di jalan-jalan yang dari dan menuju Jalan Kaliurang.

Selain Underpass Kentungan, pengendara yang mencoba mencari jalan lain seperti melewati Jalan Teknika Utara harus menemui proyek jalan lain. Pengerjaannya yang dekat lampu apill mengakibatkan kepadatan kendaraan.

Utamanya, dimulai dari depan Pascasarjana UGM sampai ke MM UGM. Padahal, cukup banyak pengendara yang melewati jalan itu untuk menghindar dan tidak harus melintasi simpang Kentungan.

Kepadatan hampir serupa dapat pula dilihat di jalan simpang Lapangan Denggung. Kemacetan terjadi akibat penutupan Jalan Gito-Gati, akibat telah dimulainya pembangunan empat jembatan.

Pembangunan jembatan itu dilakukan di sepanjang Jalan Gito-Gati yaitu di Gondanglegi, Tambakrejo, Tlacap, dan Denggung. Penutupan telah dilaksanakan sejak Rabu (6/2) pekan lalu.

Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral DIY, Bambang Sugaib mengatakan, pembangunan Jembatan Gondanglegi dan Tambakrejo ditargetkan selesai akhir Mei 2019.

Sedangkan dua jembatan lain, Tlacap dan Denggung, ditargetkan selesai hingga akhir Juli 2019. Ia menilai, dua jembatan yang sudah dibangun sejak 1984 itu kondisinya sudah cukup membahayakan dan perlu diperbaiki.

"Berdasarkan hasil inventarisasi dan survei yang kami lakukan, kondisi konstruksi bagian bawah jembatan itu sudah cukup membahayakan karena mulai mengalami kerusakan dan berpotensi mengalami longsor," kata Bambang.

Ia menegaskan, jalur itu ditutup untuk umum. Namun, saat ini, pihaknya sedang membangun jembatan darurat untuk roda dua. Jembatan Denggung dan Tlacap, kondisi medan sisi kanan dan kiri disebut curam dan sempit.

Maka itu, pihaknya hanya bisa membangun jembatan roda dua yang bisa diakses sepeda motor. Dengan jembatan darurat ini, paling tidak interaksi masyarakat di dua wilayah bisa tetap berlangsung.

Kasi Manajemen Lalu Lintas Dinas Perhubungan DIY, Bagas Senoadji menuturkan, pengaturan siklus simpang Denggung, Beran, dan Kamdanen sudah diubah fasenya. Untuk Denggung dan Kamdanen yang semula empat fase, diubah menjadi tiga fase.

"Untuk Simpang Beran, fase tidak dilakukan perubahan, namun penambahan siklus waktu hijaunya, di mana waktu hijau awalnya 10 detik kita tambah jadi 25 detik dengan tujuan arus lalu lintas dari timur bisa habis ke barat," ujar Bagas.

Ia menambahkan, dalam pengalihan jalur ini memang akan ada penambahan rambu-rambu yang dievaluasi secara berkala. Hal ini dilakukan agar masyarakat semakin mudah memperoleh informasi lewat rambu-rambu yang dipasang.

Bagas memaklumi, awal-awal penutupan jalan tentu masyarakat belum bisa terbiasa apalagi merubah pola pikirnya. Terlebih, dalam beberapa pekan setelah penutupan biasanya terjadi kemacetan.

"Namun, setelah itu akan berjalan karena masyarakat sudah terinfokan dan akan menyesuaikan pola perjalanannya," katanya.

Rencananya, memang akan ada empat alternatif sebagai antisipasi pengalihan Jalan Yogyakarta-Magelang. Dari utara melewati Jalan Turi, Jalan Pendowo-Jalan Kepitu, Jalan Notosukarjo-Jalan Palagan.

Kedua, Jalan Pandowoharjo, Jalan Notosukarjo ke Jalan Palagan. Ketiga, Jalan Mulungan Baru, Jalan Griya Taman Asri, Jalan Notosukarjo ke Jalan Palagan, dan terakhir Jalan Mulungan Baru, Jalan Prawiro, Jalan Jatirejo, dan Jalan Palagan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA