Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Pemkot Yogyakarta akan Perbanyak Jalan Searah

Senin 11 Feb 2019 18:58 WIB

Red: Ani Nursalikah

Kawasan wisata Malioboro, Yogyakarta.

Kawasan wisata Malioboro, Yogyakarta.

Foto: Yusuf Assidiq.
Titik utama arus kendaraan di Kota Yogyakarta terpusat di kawasan Malioboro.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pemerintah Kota Yogyakarta akan menerapkan manajemen atau sistem jalan satu arah di lebih banyak ruas jalan. Langkah tersebut sebagai salah satu cara mengatasi peningkatan kepadatan lalu lintas di daerah itu.

"Saat ini sedang dikaji oleh Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta dan juga Dinas Perhubungan DIY mengenai manajemen lalu lintas yang bisa diterapkan untuk mengatasi meningkatnya kepadatan lalu lintas, khususnya dalam konteks wisata," kata Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi di sela sosialisasi berlalu lintas di Taman Keselamatan Lalu Lintas Yogyakarta, Senin (11/2).   

Menurut dia, penerapan jalan satu arah akan memungkinkan pengurangan bertemunya kendaraan yang saling berpapasan sehingga mampu menurunkan rasio kepadatan lalu lintas. Hal ini juga berarti arus lalu lintas bisa semakin lancar.   

Arus lalu lintas yang lancar akan meningkatkan kenyamanan pengguna kendaraan, termasuk keamanan mereka, serta mempercepat waktu tempuh sekaligus mengurangi tingkat stres di jalan. "Memang, tidak semua masyarakat akan setuju atau senang dengan perubahan pengaturan arus lalu lintas, termasuk dengan jalan searah. Namun, jika sudah terbiasa dan merasa bisa berkendara dengan nyaman dan lancar maka masyarakat akan memahaminya," katanya.

Berdasarkan perilaku lalu lintas di Kota Yogyakarta, Heroe menyebutkan titik utama arus kendaraan di Kota Yogyakarta biasanya terpusat di kawasan Malioboro sehingga kepadatan lalu lintas di kawasan tersebut cukup tinggi.   

"Penerapan manajemen lalu lintas di Malioboro juga harus didukung kawasan di sekitarnya, khususnya di Kotabaru yang saat ini kerap menjadi alternatif jalan apabila Malioboro mengalami kepadatan. Yang perlu dipikirkan arus masuk dan keluar kendaraan harus dibedakan agar tidak saling berpapasan," katanya.   

Selain kedua kawasan tersebut, kawasan Pakuningratan seperti Jalan Mangkubumi juga mengalami kepadatan cukup tinggi karena di kawasan tersebut terdapat pasar tradisional. "Ada banyak jalan yang berbelok ke kiri dan kanan. Ini juga harus dikaji agar lalu lintas semakin lancar," katanya.       

Ia menambahkan kesulitan yang dihadapi dalam pengaturan lalu lintas di Kota Yogyakarta adalah jarak antarsimpang yang relatif pendek. Bahkan, ada simpang yang jaraknya hanya sekitar 200 meter saja, serta kapasitas jalan yang sulit ditingkatkan.   

"Untuk melebarkan jalan saja sudah sulit, menambah panjang jalan juga sulit. Bahkan mencari tambahan jalan alternatif juga sulit. Oleh karenanya, upaya mengurai kemacetan bisa dilakukan melalui manajemen lalu lintas," katanya.   

Heroe mengatakan penerapan manajemen lalu lintas di Kota Yogyakarta perlu dukungan dari kabupaten yang berbatasan, seperti Sleman dan Bantul. Sebelumnya, Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta M Zandaru mengatakan sedang mengkaji penerapan jalan satu arah di Jalan Tunjung untuk mengatasi kepadatan di sekitar Jalan Sutomo hingga Jembatan Lempuyangan.   

Dalam beberapa tahun terakhir, Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta juga sudah melakukan perubahan jalan satu arah di beberapa ruas jalan, seperti di Jalan C Simanjuntak, Jalan Prof Yohannes, Jalan Lempuyangan, Jalan Prawirotaman dan Jalan Tirtodipuran.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA