Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Jangkau Pengungsi, Kemensos Turunkan Tim ke Nduga

Sabtu 23 Feb 2019 10:24 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Proses evakuasi sepuluh pekerja oleh tim Gabungan TNI Polri di Nduga, Papua, usai indsiden pembantaian pekerja yang dilakukan kelompok bersenjata pada Rabu (12/12/2018).

Proses evakuasi sepuluh pekerja oleh tim Gabungan TNI Polri di Nduga, Papua, usai indsiden pembantaian pekerja yang dilakukan kelompok bersenjata pada Rabu (12/12/2018).

Foto: dok. Polda Papua
Warga Nduga masih mengungsi sejak serangan kelompok kriminal bersenjata akhir 2018.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) dari Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial (PSKBS) Kementerian Sosial diturunkan menjangkau pengungsi korban konflik Nduga. Para pengungsi berada di Kabupaten Jayawijaya Provinsi Papua.

"Tim Kemensos sudah turun ke lokasi pengungsian, sebelumnya juga sudah dikirimkan bantuan logistik untuk pemenuhan kebutuhan mereka," kata Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat di Jakarta, Sabtu.

Kedatangan Tim LDP PSKBS ke Kabupaten Jayawijaya merupakan lanjutan dari upaya Dinas Sosial Provinsi Papua dan Dinas Sosial Kabupaten Nduga yang sebelumnya sudah mendorong bantuan logistik untuk pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi. Tim LDP PSKBS hadir ke lokasi sekolah darurat di Gereja Sinakma setelah sebelumnya berkoordinasi dengan jajaran Pemda dan Polres Kabupaten Jayawijaya.

Dia mengatakan, tim memberikan layanan dukungan psikososial kepada 211 penyintas anak-anak usia sekolah melalui kegiatan rekreasional ringan, olah raga, dan motivasi untuk mengisi waktu luang anak setelah selesai kegiatan belajar. Selain itu, tim juga melakukan layanan kepada para guru untuk melakukan dialog dengan petugas LDP. 

Saat ini, para relawan dan guru memfasilitasi penyintas dalam hal pemenuhan hak anak mendapatkan pendidikan sehingga hal tersebut menjadi rutinitas harian di sekolah darurat. Upaya tersebut dilakukan agar anak-anak tetap bisa mendapatkan pendidikan yang layak meski dalam pengungsian.

Selain itu, para guru juga dapat fokus kepada para siswa yang akan menghadapi Ujian Nasional yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat. Anak-anak yang mengungsi tersebut merupakan korban trauma akibat baku tembak yang terjadi antara Kelompok Kriminal Bersenjata dengan TNI-Polri pada penghujung 2018.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA