Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Gubernur Riau Diharap Lebih Tegas Tindak Pembakar Hutan

Rabu 19 Feb 2014 13:59 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Api membara akibat pembakaran pelepah di lahan milik warga di Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau, Senin (24/6). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta semua pihak menghentikan pembakaran lahan yang bisa mengakibatkan kebakaran, dan meminta maaf at

Api membara akibat pembakaran pelepah di lahan milik warga di Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau, Senin (24/6). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta semua pihak menghentikan pembakaran lahan yang bisa mengakibatkan kebakaran, dan meminta maaf at

Foto: Antara Foto

REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU- - Masyarakat Kota Pekanbaru dan sekitarnya mengharapkan Gubernur Riau Annas Ma'amun dan Wakil Gubernur Arsyadjuliandi Rachman yang baru dilantik oleh Mendagri Gamawan Fauzi, bisa tegas menindak pembakar hutan dan lahan.

"Pembakaran hutan dan lahan yang kini makin serius itu telah merugikan banyak orang, mulai lamanya anak sekolah libur, penderita merasa tersiksa karena asap pemicu kambuhnya penyakit asma, jantung dan lainnya," kata Juliando (42) seorang pekerja swasta di Pekanbaru, Rabu (19/2).

Permintaan tersebut disampaikan warga terkait Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru menyebutkan Satelit Terra dan Aqua pagi ini mendeteksi titik panas (hotspot) di Riau meningkat dari 126 menjadi 256 titik tersebar di berbagai kabupaten/kota.

Juliando berharap gubernur yang baru bertindak lebih tegas lagi kepada pelaku pembakar hutan dan lahan.

"Apalagi UU-nya sudah ada dan pelaku bisa dikenai sanksi lima belas tahun penjara itu seperti diberitakan media ini dalam beberapa hari terakhir merujuk pendapat pakar Hukum Pidana UNRI Dr Erdianto Effendi itu," katanya.

Senada dengan itu, Riana Handayani (31) seorang penderita asma mengeluhkan setiap tahun terus munculnya kabut asap akibat pembakaran lahan dan hutan di daerah ini.

Karena menderita asma, katanya lagi, saya terpaksa terus memakai masker karena asap pekat itu sangat menggangu pernapasan. "Kenapa pemerintah sepertinya tidak peduli dan terkesan tidak melindungi warganya yang terus-menerus sejak sepuluh tahun terakhir itu telah menjadi korban kabut asap ini," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA