Thursday, 17 Syawwal 1440 / 20 June 2019

Thursday, 17 Syawwal 1440 / 20 June 2019

Organda: Harusnya Angkutan Umum Tetap Disubsidi

Jumat 09 Jan 2015 10:09 WIB

Red: Esthi Maharani

Tahun 2015 Premium Tidak Bersubsidi: Petugas mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis premium di SPBU, Jakarta, Jumat (19/12).

Tahun 2015 Premium Tidak Bersubsidi: Petugas mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis premium di SPBU, Jakarta, Jumat (19/12).

Foto: Republika/Yasin Habibi

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Semarang menyatakan pemerintah semestinya mengalokasikan subsidi bahan bakar minyak (BBM) khusus untuk angkutan umum agar tarif bisa dikendalikan.

"Kalau sudah ada subsidi BBM khusus untuk angkutan umum, kan pengusaha tidak harus menaikkan tarif begitu harga BBM naik," kata Ketua DPC Organda Kota Semarang Wasi Darono di Semarang, Jumat (9/1).

Ia mengakui harga BBM memang bukan satu-satunya komponen penentuan tarif angkutan umum, melainkan ada berbagai komponen lainnya, antara lain harga onderdil dan operasional perawatan armada angkutan.

Meski demikian, kata dia, kenaikan harga BBM tetap saja membuat pengusaha angkutan umum memutar otak untuk melakukan penghitungan kembali tarif, apalagi harga-harga barang dan kebutuhan juga ikut naik.

"Bagaimanapun juga, kami harus menaikkan tarif kalau BBM naik. Selama ini, kami beli BBM dengan harga sama masyarakat umum, tidak ada subsidi. Lain soal kalau BBM khusus angkutan umum disubsidi," tukasnya.

Wasi menjelaskan pemberian subsidi BBM khusus angkutan umum setidaknya bisa meringankan pengusaha angkutan umum, sebagai salah satu komponen yang ikut memengaruhi penentuan tarif angkutan umum.

"Makanya, kami selalu melakukan penyesuaian tarif begitu harga BBM naik. Namun, ketika harga BBM turun, kami tidak bisa serta merta menurunkan tarif. Ya, salah satu solusinya dengan subsidi," tukasnya.

Ia menyebutkan subsidi BBM khusus angkutan umum idealnya di kisaran Rp2.000-2.500/liter yang besarannya selalu disesuaikan dengan pergerakan harga minyak dunia sehingga harga pembelian tetap.

"Taruhlah harga premium di pasaran sekarang Rp7.600/liter, kemudian disubsidi sehingga kami beli hanya Rp5.000/liter. Kalau harga bensin naik lagi, subsidinya ditambah, kalau turun dikurangi," katanya.

Menurut dia, pengalokasian subsidi BBM khusus angkutan umum itu cukup efektif untuk mengendalikan besaran tarif yang dipatok pengusaha angkutan umum karena BBM penting untuk operasional.

"Kalau pemerintah ingin mewujudkan transportasi umum yang murah dan nyaman, ya, berikan subsidi semacam ini. Dampaknya kan positif karena meningkatkan minat masyarakat menggunakan angkutan umum," kata Wasi.

Sumber : antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA