Minggu, 13 Syawwal 1440 / 16 Juni 2019

Minggu, 13 Syawwal 1440 / 16 Juni 2019

Sosiodrama Perang Kemerdekaan Hiasi HUT RI Ke-72 di Bali

Kamis 17 Agu 2017 09:13 WIB

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Indira Rezkisari

Peringatan kemerdekaan RI ke-72 dilakukan dengan menggelar sosiodrama Perang Puputan di lapangan Puputan Renon, Bali, (17/8).

Peringatan kemerdekaan RI ke-72 dilakukan dengan menggelar sosiodrama Perang Puputan di lapangan Puputan Renon, Bali, (17/8).

Foto: Republika/Muthia Ramadhani

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Sosiodrama perang merebut kemerdekaan menghiasi perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke-72 di Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala Renon, Bali. Perang yang dikenal dengan nama Perang Puputan Margarana itu terjadi antara Indonesia dan Belanda November 1946.

"Sodiodrama ini memperkuat nasionalisme rakyat Indonesia untuk lebih mencintai negara dan bangsanya," kata narator, Kamis (17/8).

Setelah kekalahan Jepang, Belanda kembali datang menguasai Indonesia yang sebelumnya berhasil direbut Jepang pada Perang Dunia II. Belanda berniat mendirikan Negara Indonesia Timur dan Bali termasuk di dalamnya. Belanda menggelar Perundingan Linggarjati pada 10 November 1946 yang isinya mengakui de facto wilayah kekuasaan RI, meliputi Sumatera, Jawa, dan Madura.

Belanda kemudian mendaratkan pasukannya di Bali pada 2-3 Maret 1949 Belanda membawa lebih dari dua ribu pasukannya di Bali untuk mendirikan Negara Indonesia Timur dan Pulau Bali tidak diakui sebagai bagian dari NKRI.

Rakyat Bali marah dan kecewa atas isi perundingan tersebut. Mereka merasa berhak menjadi bagian dari NKRI. Kolonel I Gusti Ngurah Rai menolak ajakan Belanda dan menegaskan keputusannya dengan pertempuran bersenjata pada 18 November 1946.

Kolonel Ngurah Rai memerintahkan pasukannya untuk perang puputan yang berarti perang habis-habisan melawan Belanda dan mempertahankan kemerdekaan RI. Pasukan Belanda kewalahan.

Semangat kemerdekaan rakyat Bali, dipimpin Kolonel Ngurah Rai dan pasukan Ciung Wanara mampu mengalahkan kolonial. Mereka tidak akan mundur sampai titik darah penghabisan. Perang Puputan ini berlokasi Desa Margarana. Kolonel Ngurah Rai dan pasukannya berjumlah 96 orang gugur, sementara dari pihak Belanda lebih dari 400 tentara tewas.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA